MOBIL, ASMARA, & TARUHAN BERKENDARA

"Kendarain aja dulu. Masalah mah, belakangan. Yang penting: Bisa.."

Itulah doktrin yang selalu didengungkan oleh para tetangga ketika keluarga saya dianugerahi mobil Avanza di rumah. Saat itu, yang mahir berkendara mobil hanyalah kakak ipar saya. Seluruh aktivitas berkendara dengan Avanza-baru kami dilakukan olehnya. Mungkin dikarenakan hal itulah, para tetangga usil menceramahi kami, para anak lelaki di dalam keluarga, untuk bisa segera mengendarainya. Entah karena alasan apa, kakak ipar saya itu malas mengajari kami.

Oleh karenanya, saya mencari alternatif lain untuk dapat menaklukkan mesin otomotif keluaran Toyota tersebut. Mulai dari mengambil promo kursus belajar mobil yang ternyata penuh intrik penipuan, hingga mendatangkan teman-teman kampus yang pandai mengendarai mobil ke rumah. Imbalannya, kami dapat membawa Avanza tersebut berlibur ke luar kota. Mendengar usulan usaha terakhir, wajah kakak ipar saya tampak datar dan hening. Pertanda tidak baik : dia sedang berpikir keras. Ipar saya tidak dapat membantahnya, meskipun saya tahu betapa dongkolnya dia karena ingin membawanya dalam ritual berlibur bersama istri dan anak-anaknya di akhir pekan. Itulah kemenangan pertama yang saya dapatkan dari pegawai PNS tersebut atas mobil keluarga saya.

Berkeliling kami menjelajahi tempat-tempat wisata menggunakan mobil bercat hitam tersebut. Pantai Anyer dikunjungi, Kota Bandung pun didaki. Beberapa teori berkendara pun saya pelajari dan diingat dengan mendengar arahan teman saya saat berkendara. Atau, saat melihatnya menginjak pedal mobil dan memainkan tongkat gigi mobil serta beberapa perangkat lainnya. Lalu saat malam tiba,
dengan dibantu oleh salah satu teman satu jurusan, saya melakukan praktek mengendarai Avanza keluaran baru itu. 




Seluruh pengalaman belajar mengendarai Avanza milik sendiri di jalanan umum terangkum dengan keseruan yang tak terlupakan. Seperti sebuah pengalaman tur sekolah masa kanak-kanak yang menyenangkan. Namun, hal itu belum cukup menjadikan saya mahir dengan mesin beroda empat beserta kopling. Belum lagi, keindahan dalam berbagi, tertawa, bercanda, selfie, dibarengi belajar bersama itu dirusak oleh pertanyaan-pertanyaan sinis dan menuduh dari ipar saya karena mendapati Avanza berwarna hitam tersebut dipenuhi pasir-pasir pantai dan tangki bensin yang kosong. Hasilnya pun dapat dilihat dengan kekakuan saya saat membawa Avanza hitam itu di jalanan publik. 

Hingga pada momen tertentu, saya pun berkenalan dengan seorang gadis dari Malaysia via situs perkenalan, Facebook.

Dia cantik. Kami terkoneksi melalui dialog-dialog di kotak komentar dan pesan pribadi. Hingga gadis Malaysia itu pun mengakui bahwa ia akan datang mengunjungi Jakarta dalam waktu dekat,

"Dalam rangka apa ke Indonesia ?"

"Kuliah. Saya dapat beasiswa dari pemerintah setempat."

Betapa bahagianya saya saat itu. Gadis dari negeri seberang dengan perawakan dan kepribadian yang sempurna datang ke Jakarta. Saya membayangkan kemungkinan kami dapat bertemu secara langsung. "Durian runtuh tidak dapat mengalahkan perasaan yang telah terbang jauh ke awan". Itulah pengibaratan yang menurut saya cukup tepat.

Okay, pertemuan pertama kami memang harus dijalani dengan kendaran umum. Bikin kesal. Saya dimintainya untuk menjemputnya di bandara namun saya harus menjelaskan kepadanya, bahwa saya hanya bisa mengantarnya ke asrama menggunakan transportasi publik. Faktanya, mobil Avanza keluarga kami dipakai oleh sang kakak ipar yang posesif itu ke kantornya. Dia telah terlebih dahulu meminta ijin kepada orang tua saya, dan lagi pula, kakak ipar saya itu adalah kesayangan mertuanya. Sang gadis tidak keberatan atas hal tersebut. Akan tetapi, hasil seri harus saya tanggung. Syukur sih pasti, "gondok" juga iya..

Sepanjang komitmen masih dipegang teguh, penantian tidak akan sia-sia. Kesempatan membawa mobil Avanza-baru saya dapatkan di suatu Minggu cerah untuk membawanya berkeliling kota Jakarta. Kemenangan baru dari kakak ipar saya, meski hasilnya, saya musti ditemani oleh adik kandung sendiri. Tak mengapa.

Entah dari mana seluruh kepercayaan diri saya muncul ? Awalnya saya tidak semahir itu mengendarai mobil. Lalu, dengan serta merta saya begitu lancar menjalankan mesinnya. Percaya atau tidak percaya, ini benar-benar terjadi : tanpa rasa grogi, dan dipenuhi kebanggaan serta kebahagiaan, padahal bermodalkan nekat. Saya memulai berkendara pada pukul 6 pagi. Perjalanan dari ujung utara Jakarta hingga ke ujung selatan saya lalui tanpa masalah apapun! Kami bertemu di suatu tempat yang menjadi ikon olahraga Jakarta, Istora Senayan. Kami bercengkerama dengan asyiknya, lalu mengajarkan adik saya berkendara dan teknik memarkirkan mobil. Aneh bukan, seorang amatir mengajarkan amatir lainnya.

Telepon selular sang gadis pun berdering mengabarkan teman sang gadis Melayu itu dalam perjalanan ke Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Dia ternyata tidak sendiri. Kami pun menyusulnya pada pukul 10 pagi, menyusuri jalan Sudirman, M.H. Thamrin, dan berbelok masuk ke arah Monas. Temannya adalah seorang pemuda dan pemudi dari daerah Penang, Malaysia. Mereka berbeda kampus. Yang pemuda adalah mahasiswa kedokteran Gigi, sedangkan yang pemudi rekan satu jurusan, Psikologi. Gadis incaran saya itu berasal dari Sabah, Malaysia. 

Di Pagi menjelang siang itu, Monas dipenuhi pengunjung. Teman-teman sang gadis pun menjadi tidak lagi tertarik untuk masuk ke dalam monumen, dan rasa penasaran mereka beralih ke kampus kedokteran di Salemba yang terkenal itu. Setengah jam saja kami berada di area taman umum tersebut. Pukul 11 pagi, kami berangkat memutari Salemba balik kembali ke arah Pasar Senen untuk mencari tempat makan murah dengan pelayanan bintang 5. Rasa lapar memang selalu mengalahkan rasa penasaran.

Sekali lagi, keajaiban terjadi. Saya nekat mencari parkiran sendiri dan menginstruksikan adik saya, sang gadis beserta temannya turun terlebih dahulu dan mencari meja untuk kami. Saat memasuki terowongan parkir lantai dasar saya tidak dapati tempat parkir yang tersedia. Kemudian, saya berinisiatif mencarinya ke lantai atas satu per satu. Tidak ada rasa khawatir saat itu membawanya menanjak hingga ke lantai teratas Mall Atrium Senen. Membawa kendaraan di area yang penuh kendaraan di atas aspal yang menanjak bukanlah pekerjaan seorang pengendara amatir. Tiba-tiba saja saya menjadi profesional ! Tidak ada lagi teori, tidak ada arahan. Dibenak saya hanya ada perintah "jalankan saja!" atau "rem pelan-pelan dan jangan gegabah!" Pikiran saya begitu fokus. Apakah ini datang dari hormon yang telah menjerumuskan saya ke dalam kenekatan ini ? Mungin saja ini hal sinting, tapi saya berhasil memarkirkan Avanza hitam tersebut di area puncak gedung yang dipenuhi orang-orang bekerja mencuci beberapa mobil.

Di hari Minggu yang tak terlupakan itu, saya berhasil membawa "gebetan" sekaligus teman-temannya berkeliling Jakarta. Menakjubkan ! Kembali saya membawa Avanza pulang ke rumah dengan rute Senen - Cempaka Putih - Yos Sudarso. Saat di bawah jembatan Pasar Senen, saya mengambil bahu kiri jalan yang terhadang oleh mikrolet yang berjajar parkir di sana. Jalanan kala itu agak tersendat hingga saya menggerakkan mobil ke arah kanan mengambil jalur tengah jalan. Nahas, sudut yang saya ambil terlalu kecil hingga pintu depan dan tengah mobil Avanza tersebut berciuman dengan sisi kanan bemper belakang salah satu mikrolet. Terteralah di sepanjang kedua pintu mobil keluarga kami sebuah garis putih kotor yang begitu dalam. Hari ini memang bersejarah bagi kehidupan berkendara saya. Tapi dengan kenang-kenangan di sisi kiri pintu Avanza hitam menandakan konflik saya dengan kakak ipar akan diperpanjang.

Komentar

Postingan Populer