PENGALAMAN BUKBER TERJAUH SAYA

Enaknya punya kenalan di luar daerah itu saat diajak makan-makan di rumahnya. Seperti saat saya di Makassar pada tahun 2015 kemarin.

Pada bulan Juni di tahun tersebut saya mendapat undangan menjadi relawan di sebuah event, Makassar International Writer Festival. Di perhelatan internasional itu saya ditempatkan sebagai Liasion Officer (L.O) bersama beberapa kenalan asli sana.
Ramadhan Bulan Berbagi

Rekan-rekan L.O di Makassar International Writer Festival (MIWF) adalah sekumpulan aktivis mahasiswa. Kalaupun sudah lulus, roman-roman aktivis itu tidak hilang bersama waktu.

Baik lelaki maupun perempuannya, punya alasan masing-masing mengikuti event ini. Namun, satu yang pasti mereka semua memiliki impian menjejakkan kaki di luar negeri dan mempelajari kemajuan ilmu serta teknologi di sana. Benar-benar intelek.

Saya suka dengan orang-orang demikian. Penuh semangat, dan memiliki karakter yang baik. Berbeda dengan pemberitaan di media konvensional maupun media sosial saat itu yang menggambarkan warga Makassar yang suka sekali mencelakai pengendara motor di malam hari. Rekan-rekan saya di MIWF kebalikan dari itu cap negatif itu. Bersama mereka seakan memiliki harapan hidup lebih lama.

Sayangnya, waktu kebersamaan itu hanya 5 hari saja. Setelah acara selesai, kami pun berpisah ke tempat masing-masing. Sedih? Tentu. Senangnya adalah kita masih terhubung dalam satu grup LINE dan dapat berkontak kabar satu sama lain.

Saya juga sering mengunjungi Universitas Hasanuddin, Makassar. Lokasinya tidak jauh dari perumahan tempat tante saya tinggal. Jadi terkadang, kami janjian di sana untuk bertemu karena beberapa dari mereka kuliah di sana.

Oh iya, saya lupa memberitahu kalau grup L.O MIWF 2015 telah bermigrasi dari LINE ke aplikasi Whatsapp (ini bukan iklan, ya. Haha).

Kebersamaan kami tidak benar-benar selesai, hingga di suatu ketika, Ramadhan pun tiba.

Ramadhan di Makassar hampir sama dengan di Jakarta. Bedanya, di sini lebih panas aja cuacanya. Kalau mau keluar rumah mesti persiapkan topi dan pakaian agak tertutup agar tidak cepat dehidrasi.

Warga di sekitar rumah tante saya juga ramah-ramah. Pernah di suatu siang saya hendak ke depan jalan menaiki pete-pete (angkot) dengan berjalan kaki. Di tengah jalan itu tetangga sepupu saya ada saja yang menawarkan boncengan ke saya. Bahkan, ada yang mengantarkan hingga sampai di Masjid Al Markaz, karena saya ikut program kursus bahasa Perancis gratis di sana. 

Kedua pengalaman bersama anak-anak muda Makassar seperti itulah yang menciptakan keraguan saya atas propaganda media bahwa mayoritas pemuda di sana kriminal. "Mungkin kah itu salah?"

"Besok ada acara?" rekan L.O MIWF berinisial A menyapa saya via WA.

"Nggak ada. Kenapa A?"

"Ada undangan bukber di rumahnya Dy. Mau ikut?" tanyanya lagi.

Membaca itu saya senangnya luar biasa. "Di mana?"

"Di rumah keluarganya di (kabupaten) Gowa."

Wah. Setau saya Gowa itu ibarat kata kota satelitnya Jakarta, seperti Bodetabek. Jauh.

"Kalau dari Makassar mesti naik pete-pete apa ke sana?" Saya balik bertanya.

"Nanti saya jemput ke rumah."

Tanpa basa-basi saya pun langsung mengiyakan tawarannya.

Di hari buka puasa bersama itu diadakan, kami tidak langsung menuju rumah Dy. Tetapi berhenti di kawasan taman balaikota di sana. Ternyata si A ini tidak juga tau rumah keluarga Dy. Ia hanya mendapatkan sebuah alamat dari H. Dikarenakan tidak begitu paham jalur persisnya ke sana, si A janjian kembali dengan H di taman ini.

Betul saja. Kami beberapa kali salah masuk gang menuju rumah Dy. Mau kirim pesan WA, tidak ada jawaban. Mau telepon langsung, gawai lowbatt. Akhirnya, kami bertanya ke warga sekitar, hingga sampai di tempat tujuan.

Rumah keluarga Dy begitu luas. Dipekarangannya telah hadir sekelompok anak-anak yatim. Ayahnya yang mengundang mereka berbuka bersama di rumahnya.

Ayah sang gadis merupakan petinggi di salah satu instansi kepemerintahan provinsi Sulawesi Selatan. Rumahnya besar dengan pencampuran dekorasi modern dan khas daerah. Di sisi kiri rumah terdapat saung yang menjadikannya tampak makin akrab jika diisi dengan orang-orang.

Di dalam rumah telah dibersihkan dari perabot-perabot hingga tampak lega. Berjejer sajadah-sajadah di salah satu sudut ruangan yang menunjukkan spot tersebut sempat dipakai jamaah untuk sholat Ashar. Saya pun izin menggunakannya untuk keperluan yang sama.

Selesai sholat saya kembali ke bangku tamu bersama-sama A dan H. Dy yang melihat kami pun ikut bergabung dan bercengkrama dengan kami, "Yang lain pada kemana?"

"Banyak yang tidak bisa karena ada acara lain di luar," jelas A.

"Nanti ada bukber juga di Rumata'. Di sana akan dibagi sertifikat MIWF." Tambah H.

"Ketemu lagi dengan bagian konsumsi, nah." Sindir Dy.

Kami pun tertawa lebar. Saat mulai kegiatan volunteer di Fort Rotterdam, Makassar, sebagian dari kami sempat mendapatkan perlakuan tak menyenangkan oleh mereka. Alih-alih memperpanjang masalah kala itu, kami hanya menjadikannya pelajaran dan kenangan di kemudian hari. Seperti hari ini.

Acara utama pun dimulai. Kultum agama menjadi agenda pertama buka puasa bersama keluarga besar Dy. Setelah itu dilanjutkan dengan pembagian bingkisan kepada anak-anak yatim.

Menyaksikan hal tersebut saya teringat pesan Nabi untuk senantiasa mencintai anak yatim dan piatu. Bahkan, saking utamanya perilaku tersebut, Nabi Muhammad menjamin surga bagi orang-orang yang menyantuni anak yatim kelak, dan kedudukannya akan tidak jauh dari beliau seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah.

Indahnya peristiwa di hari itu. Masih di awal Ramadhan namun semangat menyantuni anak-anak itu begitu besar. Saya jadi ikut bahagia.

Menjelang beberapa menit akan berbuka, zikir dikumandangkan. Kami pun diminta untuk ikut melafazkan kalimat-kalimat yang membesarkan Asma Tuhan.

Begitu azan Maghrib berkumandang, keran-keran air terbuka; gelas-gelas terisi penuh, dan segala bentuk dahaga dan rasa lelah sirna seketika.

Berbagai sajian dihidangkan. Ada buah, kue dan gorengan khas Makassar, pudding, prasmanan yang disajikan lengkap dari nasi, bihun, lauk, dan sebagainya ada semua. Membuat kami bingung hendak mendahulukan menu yang mana?

Lengkap semua, dan kami pun mampu mencoba semua hidangan. Itulah kehebatan perut dalam menampung seluruh isi makanan. Apalagi kalau lagi lapar berat (haha).

Selesai menikmati hidangan kami masuk ke dalam ruangan untuk menunaikan sembahyang. Di sela-sela pelaksanaan sholat Maghrib, saya pun mendoakan yang terbaik untuk tuan rumah: hidayah, taufik, dan rizki yang terus berlimpah setiap hari. Kemudian berharap agar Tuhan memberikan kesempatan yang sama untuk saya dapat menyantuni anak-anak yatim.

Aamiien..

#29haringeblog

#ceritaramadanku


Komentar

Adi Pradana mengatakan…
Pengalaman silaturahmi yang menyenangkan, dijamu buka puasa di rumah

Postingan Populer