Navigation Menu

"AKAD" TAK BERKONTROVERSI


Saya menyerah. Setelah beberapa kali mengabaikan salah satu konten video di linimasa Youtube ini, tak mampu saya menahan rasa penasaran yang hebat setelah kembali terpapar klip musik berjudul “Akad”. 

Telinga saya mengenal setiap lagu Payung Teduh dengan irama yang khas. Melodinya romantis disertai dengan varian not yang anti-mainstream. Bergerak melipir di not-not rendah lalu meloncat tinggi satu oktaf; itulah ciri khas Payung Teduh. Namun lagu berjudul “Akad” agak berbeda. Jika saya sering mendengar unsur keroncong di lagu-lagu sebelumnya, kali ini Payung Teduh terdengar begitu nge-jazz.

“Akad” bisa jadi hadir dengan kontroversi karena muatan liriknya. Katanya lirik "Akad" mengalami penurunan kualitas, nafsu mau nikah, dsb. 

Tapi bagi saya, lirik lagu ini justru membangkitkan kisah romansa kedua orang tua saya yang sering mereka sampaikan jika ada waktu berkumpul bersama keluarga. Kisah mereka tersimpan baik di memori pikiran anaknya ini dan menguar seketika saat lirik terbaru band Payung Teduh mengalun dengan dinamika lembut.

Meski sering berbantah-bantahan saat bercerita, satu yang pasti : Nyonya Djamil ini tidak pernah sekalipun bertemu suaminya kala ia masih muda. Ketemunya, ya pada saat di pelaminan. Ibu saya terkenal manis; maka dari itu ia dijuluki Te'ne yang berarti "gadis manis" dalam bahasa Luwu. Saat hendak merantau ke ibukota, ia pernah berpesan kepada pria yang pernah menjadi pujaan hatinya untuk segera melamar jika memang sekiranya serius. Tujuannya datang ke Jakarta memang untuk mengadu nasib. Namun justru nasib lain tak dapat dihindari : ibu saya bertemu jodoh yang sesungguhnya.


"Namun bila kau ingin sendiri, cepat-cepatlah sampaikan kepadaku. Agar ku tak berharap, dan buat kau bersedih." 

---------------------------------------------------------------------------

Ayah saya adalah seorang pelaut dan sempat mengalami masa-masa sulit paska ditinggal cerai oleh istri pertamanya. Rasa cinta kepada mantan istrinya yang cantik itu serasa tak berujung dan tak kesudahan. Hingga saatnya ayah saya datang berkunjung ke rumah salah satu kenalannya dari desa sebelah, dan melewati ruang dapur yang tengah penuh itu. Meski disesaki orang, matanya mampu menangkap wajah manis seorang gadis dari desa Bajo, Luwu, Sulawesi Selatan. Sungguh keterlaluan kiranya jika saya mengatakan ia tidak terpesona; karena seketika itu juga ia berkata kepada iparnya sendiri berniat menikahi sang gadis. 

Di hari itu juga, keluarga ayah saya heboh. Setelah mengalami patah hati yang cukup parah, akhirnya ia membuka hati kepada seorang gadis yang belum pernah eksis selama ini. Tim mak comblang yang dipimpin adiknya datang ke rumah yang menjadi kenalan sang kakak. Diketahui bahwa rumah tersebut adalah rumah bibi dari sang gadis. Dipantau gerak-gerik sang gadis - didekati - lalu diajak bicara barang sebentar - disetujui - lalu dibicarakan secara kekeluargaan dengan keluarga bibinya. Cepat bukan? Ibu saya saja tidak tau konspirasi tersebut.

"Ada pemuda kenalan saya ini yang mau melamar anak kamu. Terima segera! Dia pemuda baik-baik." Begitu isi surat yang dibaca ayah sang gadis. Namun beberapa hari kemudian, surat lain datang dari pujaan hati si Te'ne. Isinya tentang niatan melamar gadis yang sekarang menjadi ibu saya.

Kakek saya itu punya standar etika. Secara umum, pinangan pertama yang datang adalah pinangan yang lebih dulu diproses. First come, first serve. Kala itu, kakek saya tidak langsung menyetujui pinangan ayah saya karena belum pernah bertemu sebelumnya. Kemudian datang ayah saya bersilahturahim dan dengan tegas mengajukan lamaran resmi. Gentlemen banget lah, pokoknya. 

♫"Bila nanti saatnya t'lah tiba, ku ingin kau menjadi istriku. Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan; berlarian kesana-kemari dan tertawa."
---------------------------------------------------------------------------

Apakah ibu saya tidak bahagia karena dinikahi bukan oleh pujaan hatinya? 

Ibu saya telah mendampingi suaminya selama 40 tahun serta memiliki enam orang anak, dan tiga orang cucu. Jika dinilai secara kuantitatif tentu bahagia. Jika dinilai secara kualitatif, ibu saya tidak pernah sekalipun kabur ke pria lain atau memaksa minta dicerai seperti prilaku istri pertama ayah saya.

Hingga suatu ketika, di akhir tahun 2013, ponsel saya berdering dan memberitakan kematian kepala keluarga kami. Sidang skripsi saya pun musti ditunda demi kondisi yang saya alami. Pagi berikutnya setelah dikebumikannya ayah saya, ibu bercerita mengenai detik-detik terakhir meninggalnya pria itu. Ayah saya meminta disuapi barang beberapa sendok nasi oleh istrinya. Ibupun menyanggupi. Dimintanya untuk ditemani istirahat siang bersama; Ibu juga menyanggupi. Di atas alas tidur yang telah dirapihkan, ayah saya tidur dalam dekapan wanita yang telah menjaganya puluhan tahun. Dalam pelukannya pula, ayah saya menghembuskan nafas terakhir.

♬ "Namun bila saat berpisah t'lah tiba, ijinkan ku menjaga dirimu. Berdua menikmati pelukan di ujung waktu. Sudikah kau temani diriku?"
---------------------------------------------------------------------------


Official  Music Video "Akad" by Payung Teduh :

34 komentar:

Dian Hendrianto mengatakan...

bagus bgt tulisannya. Kilas balik orang tua. Sama seperti lagunya, bisa membawa duka, bisa juga membawa bahagia. :)

ikhsan keren mengatakan...

Terima kasih Kaka hhe

Marfa U mengatakan...

Mungkin saya juga salah satu yang nggak terlalu antusias dengan Akad, mungkin karena booming banget gitu ya, kalo dulu kan penikmat PT masih sedikit, jadi merasa biasa aja hehe. Eh bahkan sampai waktu-waktu terakhir tetap meminta belahan hatinya yang menemani, kalau bukan disebut cinta sejati, lalu apalagi? :")

ikhsan keren mengatakan...

berikan saja nama kak, kalau bingung apakah itu cinta sejati atau jenis yang lain. Biar saling kenal dan terbiasa. hahahaha

Jiah Al Jafara mengatakan...

Ya Allah, aku kemarin baruu aja nonton video ini dan mewek, huhuhu

Kalau dr segi lirik memang lbh ke romance, bkn cinta menggebu ala anak muda. Tp aku suka

Semoga ortunya bs jd pasangan akhirat juga ya

andhikamppp mengatakan...

Maafkan saya mas @Sandz Arjak baru sempat mampir ke blognya, bagus. Saya suka penulisannya. Izinkan saya meminjam kata-kata manusia biadab yang pernah mampir beberapa kali ke blog saya: "Baru mampir, sudah suka sama tulisannya"

Beberapa bagian dari cerita ini, agak sensitif, pribadi, tapi bisa diolah dengan baik. Jika ini review, ini adalah review yang berkelas.

terima kasih, mas.

ikhsan keren mengatakan...

Aamieen..makasih ya ka

ikhsan keren mengatakan...

terima kasih mas andhi atas komentarnya. Saya juga baru aja mampir ke blog mas Andhi dan saya juga langsung suka dengan tulisannya. Satu-sama lah. Cuma bedanya saya belum nulis komentar di blog mas. Ditunggu ya..hhe

Dian Ravi mengatakan...

Aku speechless. Boleh enggak komen sebaris aja: Tulisannya luar biasa indah, Mas.
Senang sekali bacanya. Terus aku mikir, kok aku rasanya baru 2 kali ya berkunjung ke blog Mas Ikhsan ini? Sepertinya aku akan sering berkunjung. Sering-sering ikut share link ya, Mas. Aku pikunan soalnya.

ikhsan keren mengatakan...

siap mba. terima kasih sudah mampir.

Zefy Arlinda mengatakan...

Romantis lirik lagunya, romantis juga ceritanya. Liriknya sejalan dengan cerita ibu dan ayahnya mas. Aku suka aku suka, gitu tuh salah satu cerita cinta sampai mati :)

Pertiwi Yuliana mengatakan...

Pertama kali dengar lagu Akad ini, aku gak ngeh ini lagu Payung Teduh. Beda banget sama sebelum-sebelumnya. Pas tau itu lagu Payung Teduh, aku kesel. Aku merasa Payung Teduh udah gak teduh lagi. Tapi beberapa hari lalu, aku baru lihat vklip Akad, aku nangis. Dalem banget. Dan ini kali kedua aku ngeluarin airmata berkaitan dengan Akad. Dalem tulisanmu, Mas. Akhir yang sungguh menyentuh. :')

Dikki Cantona Putra mengatakan...

Sampe sekarang belum pernah dengerin lagu akad haha karena, kurang suka sih ama lagunya melow gimana gitu.


Tp malahan temen temen ane yg rame banget masalah lagu akad haha

ikhsan keren mengatakan...

Disediakan kok bang klip musik officialnya, pas di akhir tulisan. Jgn lupa ditonton ya

ikhsan keren mengatakan...

Saya senang jika Kaka tersentuh dg tulisan saya..hhe

ikhsan keren mengatakan...

Terima kasih karena berkenan memberikan tanggapan positif.

mia fajarani mengatakan...

Duh, jadi makin sayang sama ortu ehehehe. Tapi ya, mia enggak pernah diceritain gimana awal mula mamih papih bisa deket, cuma diceritain kesenjangan antar du akeluarga mereka saat merintis hidup bersama dari pacaran hingga nikah. Salam buat ibu, mas. Semoga almarhum bapak tenang disana, amin.

ikhsan keren mengatakan...

Aamiien. Terima ksh doanya ka.

Rhoshandhayani KT mengatakan...

Aiiiiih keceh banget kisahnyaaaaa
Aku selama ini belum tau kisah cinta orang tua saya, pun dengan pakde bude yang dekat dengan saya. Seringnya sih kisah cinta orang lain, tapi selalu menginspirasi

Aku juga pernah bahas akad, lebih tepatnya bahas videonya akad yg sempat hilang, hehe

Saya belum pernah dengar lagu Payung Teduh yang ini. Jadi kurang ngeh ke hype-nya. Cuma jika akad jadi nafsu kok...nganuuu gitu..

Kisah ibu bapaknya sangat luar biasa. Touching

Lendy Kurnia Reny mengatakan...

Indahnya kisah cinta kedua orangtua kita tak akan sebanding dengan kisah cinta muda-mudi jaman sekarang.
Romantisme nya jauuuhh lebih menyentuh kisah cinta orang-orang jaman dulu.
Karena jaman di saat ingin menyatakan cinta saja menggunakan surat-menyurat.

Proses menanti-kesabaran serta sikap tegas, jelas dibutuhkan.

Semoga Ibu dan Bapak menjadi pasangan yang berkumpul di jannahNya kelak.
Aamiin.

Perempuan November mengatakan...

beberapa ada yang menyayangkan dan merasa nggak sesua ekspektasi memang akadnya Payung Teduh ini. Tapi aku pribadi masih oke sih dengarnya walaupun ya memang harus diakui kalau berbeda dari lagu-lagu mereka sebelumnya.

tahun 2013, ini sama seperti yang kualami. tahun 2013 tahun paling menyedihkan buat aku. saat lagi nyusun skripsi, ibuku nelfon kalau ayahku sakitnya tambah parah. aku memutuskan buat pulang kampung dan mengabaikan janji ketemuan ama dosen buat bimbingan skripsi. sore aku nyampe rumah, besok paginya ayahku pergi T-T (maaf, ini aku kok malah curhat pribadi)

Ajen Angelina mengatakan...

Terima kasih sudah berbagi kisah cinta luar biasa tentang Ayah dan Ibunya, Mas 😍😍
Akad ini akan jadi salah satu lagu di nikahan saya hehehe

ikhsan keren mengatakan...

Barakallah. Semoga senantiasa dalam naungan keberkahan Tuhan. Semoga jg acaranya lancar dan penuh kebahagiaan. Aamiien!

ikhsan keren mengatakan...

Masya Allah, kisahnya hampir sama. Smg ayahanda kakak dalam naungan kasih sayang dan Rahmat Tuhan. Aamiien

ikhsan keren mengatakan...

Aamiien. Terima kasih karena atas doanya

ikhsan keren mengatakan...

Terimakasih ka sudah bersedia mampir membaca.

ikhsan keren mengatakan...

Nanti kapan2 saya mampir ke artikelnya. Hhe

HELLO FIKA mengatakan...

baca ini membuat mataku berkaca kaca..

aku jadi teringat kedua orang tuaku yg sudah almarhum..umurku 17 saat ayahku meninggal, dan umur 33th saat ibupun menyusul, adikku? mereka jauh lebih muda lg. dan kedua orang tuakujg punya kisah yang manis.


semoga ibundamu sehat selalu ya ikhsan, .. supaya bisa menemani anak anak dan cucu2nya sampai lamaaaaaa... nggak seperti kami :(

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

Ya Allah, kisah cinta yang tulus dan romantis banget ya... Bapak dan ibu terlihat saling menyayangi satu sama lain. Bahkan dibuktikan saat detik-detik terakhir kepulangan Bapak.
Saya jadi bertanya-tanya, akankah akhir hidup saya bisa seperti mereka?

unizara dotcom mengatakan...

Saya sering liat di beranda Fb teman yg katanya sedang mendengarkan lagu akad payung teduh
Ternyata saya kudet banget ..ga tahu ada lagi yang sedang hits
Btw kisahnya mengharukan...apakah kisah nyata sesungguhnya ?

ikhsan keren mengatakan...

Iya ka. Kisah di atas saya dapatkan dari cerita-cerita beliau saat saya masih kecil, dan saya perkuat lagi dengan wawancara dengan ibu saya beberapa minggu yg lalu

ikhsan keren mengatakan...

Semoga Allah memberikan kita semua yang terbaik hingga akhir hayat. Aamien

ikhsan keren mengatakan...

Aamien semoga Ibu saya senantiasa sehat selalu. Semoga mba Fika juga selalu sehat dan bahagia selalu.