Navigation Menu

featured Slider

Featured Post

Random Post

"Love Me for a Reason" dalam Sepenggal Kisah Cinta Masa Muda

(Ilustrasi) "Love Me for a Reason" dalam Sepenggal Kisah Cinta Masa Muda. Sumber : kaboompics/pixabay


"Love Me for a Reason" merupakan ungkapan dalam bentuk kalimat kerja aktif. Ungkapan ini ditujukan agar seseorang mencintai dirinya karena sebuah alasan. Mereka tidak menerima apa yang disebut dengan omong kosong. Mereka butuh dengar alasan yang kuat. Karena dengan itulah cinta memiliki rasa, sehingga dapat dinikmati. Disamping itu, dapat diterima oleh akal sehat, dan memiliki relevansi untuk ditindaklanjuti. 

Ok, lanjut bersabar dengan artikel ini ya..

Seperti contoh, cinta dikarenakan fisik. Dimana cinta itu muncul dari mata lalu hingga turun ke hati. Ada sesuatu dari penampakan fisik seseorang itu yang membuat hati mendesir hingga cinta terkembang dan terngiang-ngiang di pikiran. 

Contoh di atas seringkali efektif menghadirkan rasa keterikatan emosional di hati seseorang. Relevan; karena bapak saya sendiri memilih ibu saya sebagai istrinya dari mulai pandangan pertama ketika baru saja mengalami patah hati berat. 

Ibu saya terkenal sebagai gadis manis, maka dari itu ia dikenal sebagai "te'ne" dari bahasa Luwu, Sulawesi Selatan. Wajah yang manis itulah yang ter transmisi hingga ke kedua kelopak mata bapak saya; menumbuhkan kembali bunga-bunga asmara di hatinya yang sempat mengering, hingga akhirnya berlabuh ke pelaminan. Untuk cerita lengkapnya bisa baca kembali artikel ini.

Jadi intinya, cinta dengan alasan fisik masih diterima dalam kaidah-kaidah tertentu. 

Ok, kita lanjut lagi..


Boyzone, Love Me for a Reason

Sebenarnya banyak sih, alasan seseorang bisa mencintai orang lain. Kalau dalam kasus saya, keterikatan emosional pernah hadir ketika mendengar lagu Love Me for a Reason yang dipopulerkan kembali oleh Boyzone. 

Bagaimana bisa?


Kita mulai dari kupas lagunya dulu, ya.. Komposer dari lagu ini adalah seorang musisi terkenal bernama Johnny Bristol, yang kemudian lagu tersebut menjadi lebih terkenal karena dibawakan oleh grup band The Osmond. Dua puluh tahun kemudian "Love Me for a Reason" menyelinap di saluran TV dan radio Indonesia melalui koor grup Boyzone, pada tahun 1994.

Ketertarikan saya dengan lagu ini tidak terlepas dari kakak perempuan saya. Dia punya kebiasaan menyalakan stasiun radion favorit di pagi hari, saat membantu orang tua beberes rumah. Tiba-tiba saja alunan lagu Love Me for a Reason yang dibawakan Boyzone muncul. Gemanya mengisi ruang-ruang di rumah kami, lalu menarik perhatian indera pendengaran saya. Begitu terus setiap pagi; membuat hari-hari saya dipenuhi semangat dan menghadirkan hasrat yang tidak dikenal sebelumnya (keinginan untuk dicintai - red). 

Pada saat itu saya tidak langsung paham arti dari lagu yang dibawakan Boyzone tersebut. Wajarlah demikian, karena saya tidak mahir berbahasa Inggris saat itu. Hingga di suatu hari, kesempatan memahami teks dari lirik lagu Love Me for a Reason saya dapati. 

Kejadiannya di sela-sela pergantian mata pelajaran di sekolah. Saya ingat sekali, awal mulanya bersumber dari meja nomor tiga, baris kedua dari kiri. Dua siswi cantik teman saya yang duduk di bangku itu menyanyikan lagu Love Me for a Reason bersama-sama. Liriknya tertulis di atas sebuah carik kertas, dan dipegang mereka untuk dinyanyikan bersama-sama. Lirik di atas itu menjadi fokus perhatian saya, kala itu. 

Saya yang duduk di bangku baris ketiga, nomor empat di belakangnya langsung tergerak mendekati keduanya. Mata saya memandangi lekat-lekat huruf demi huruf yang tertulis di atas carik kertas itu. Sembari mendengarkan keduanya bernyanyi, saya jadi paham bagaimana pronounciation di tiap baitnya, meski belum bisa mempraktikkannya. 

Boyzone. Sumber : wall.alphacoders.com



Seperti ini baitnya, 

Girl when you hold me
How you control me
You bend and you fold me
Anyway you please
It must be easy for you
The loving things that you do
Are just a pastime for you
I could never be

And I never know, girl
If I should stay or go
'cause the games that you play
Keep driving me away

Don't love me for fun, girl
Let me be the one, girl
Love me for a reason
Let the reason be love

Don't love me for fun, girl
Let me be the one, girl
Love me for a reason
Let the reason be love

Kisses and caresses
Are only minor tests, babe
Of love lead to stresses
Between a woman and a man
So if love everlasting
Isn't what you're asking
I'll have to pass, girl
I'm proud to take a stand

I can't continue guessing
Because it's only messing
With my pride and my mind
So write down this time to time

Don't love me for fun, girl
Let me be the one, girl
Love me for a reason
Let the reason be love
Don't love me for fun, girl
Let me be the one, girl
Love me for a reason
Let the reason be love

I'm just a little old-fashioned
It's take more than physical attraction
My initial reaction is honey give me love
Not a facsimile of

Don't love me for fun, girl
Let me be the one, girl
Love me for a reason
Let the reason be love
Don't love me for fun, girl
Let me be the one, girl
Love me for a reason
Let the reason be love (2x) 

Kandas Cinta karena Framing

Semenjak kejadian itu, perhatian saya tidak pernah terlepas dari mereka, terutama dengan gadis berambut pirang sepanjang bahu. Cantiknya beda, seperti ada bule-bulenya gitu (bukan iklan, haha). 

Dipenuhi atmosfer "eureka" atas lagu Love Me for a Reason, ini justru menjadi kesempatan saya untuk selalu mendekati gadis satu kelas saya itu. Dengan memintanya mengajarkan pronounciation bait demi bait lagu asli gubahan Johnny Bristol, rencana saya berjalan lancar. Istilahnya, sambil menyelam minum air lah, begitu kira-kira. Sambil belajar jadi punya kesempatan mendekati si doi.

Tidak lupa saya mencatat ulang lirik lagunya. Lalu ketika di rumah, saya nyalakan radio untuk mencari-cari stasiun yang menyiarkan lagu-lagu populer saat itu, dengan harapan Boyzone kembali berdendang. Kalau ketemu, saya gelar kertas berisi liriknya dan ikut bernyanyi di depan radio milik kakak perempuan saya. 

Beberapa hari cukup untuk menghapal dan merapal liriknya sesuai dialek Inggris yang dibawakan Boyzone. Bahkan, saya juga jadi mahir menyanyikan bait milik Stephen Gately disertai suaranya yang khas. 

Seiring terpenuhinya hasrat mempelajari lirik lagu yang dibawakan kembali oleh grup band Boyzone, muncul kekosongan di hati ini : saya mulai kesulitan mendekati gadis itu. Tidak ada lagi alasan untuk lebih mengenalnya, pikir saya. 

Alhasil, saya malah mendekatinya dengan cara yang freak. Apapun saya lakukan untuk mendapatkan perhatiannya. Yang jadi persoalan, antara tujuan dan metode yang saya pakai tidak memiliki relevansi sama sekali. Seperti, mengusiknya saat sedang bercengkrama dengan teman satu bangkunya. Atau, mengambil perlengkapan belajarnya untuk dia cari. Tapi alih-alih membuatnya terpesona, raut wajahnya menunjukkan rasa risih. 

Yang paling ekstrem, saya sampai menyentuh dadanya yang mulai tumbuh. Dia sampai terkaget dan memekik. Wajah saya menyeringai kaku. Jantung saya serasa jatuh hingga ke lutut, dan berharap dirinya tidak mengadu ke guru atau kepala sekolah. Yang terjadi selanjutnya adalah, dia hanya menunduk terdiam dan membuat gesture seakan-akan tidak terjadi apa-apa. 

Teman-teman saya yang lain yang menyaksikan kejadian itu membuat tema perbincangan ala-ala detektif amatir : apa alasan si D diam saja, padahal saya menyentuh payudaranya tanpa izin? 

Banyak teori yang tumpah melalui forum diskusi dadakan tersebut. Padahal sistem belajar kita pada tahun 1994 saat itu masih menggunakan metode hafalan loh. Doktrin ala-ala orde baru. Gak ada kritis-kritisnya sama sekali. Akan tetapi, terkait kejadian ini, kami tetiba menjadi peneliti yang berupaya menjawab fenomena yang terjadi. 

Sayangnya, hasil diskusi kami malah memiliki kesimpulan bernada framing, bahwa si D terkenal genit di lingkungannya. Kebetulan salah satu panelis kami adalah tetangganya. Sehingga, teori yang dibangunnya lebih masuk akal. Framing yang terbangun seperti meruntuhkan bangunan yang telah dibuat selama beberapa hari di pikiran saya. Kecewa? Bisa dibilang begitu. Meski apa yang saya perbuat tidak bisa diterima juga, dan berpotensi besar dikeluarkan dari sekolah.

Hasil diskusi itu tidak membuat si D dijauhi atau dibully, alhamdulillah. Akan tetapi mempengaruhi pandangan saya terhadapnya. Mungkin, cinta yang saya rasakan ke gadis satu kelas saya itu hanyalah "cinta monyet". Maka cepat sekali kandas, secepat lagu Love Me for a Reason yang dibawakan Boyzone berdurasi sekitar 3 (tiga) menit lebih.

Apes, dah..
________________________________________

Official Music "Love Me for a Reason" by Boyzone :



Beli Properti Rumah dengan Emas, Sangat Mungkin!

(ilustrasi) "Beli Properti Rumah dengan Emas, Sangat Mungkin!" Sumber : Pixabay/Nattanan23


Sebagai kelahiran tahun 1980-an jarang saya mendengar para kakek-nenek, ibu-bapak, paman maupun bibi, hingga para tetangga yang berbicara tentang mengatur keuangan untuk membeli lahan beserta bangunan sendiri. Hidup seakan berjalan secara otomatis. Jika sekolah dengan tekun, dan menabung ketika dewasa kelak, kita akan menjadi menjadi kaya-raya. Padahal membahas keuangan tidak sekedar rajin menabung, dan tekun belajar.

Contohnya, tidak ada pembahasan bagaimana mata uang yang kita pakai memiliki nilai fluktuatif terhadap mata uang negara lain. Permintaan dan penawaran di pasar global menyebabkan perubahan nilai mata uang di tingkat lokal. Hal ini juga mempengaruhi tingkat harga bahan bangunan di pasarannya.

Dengan tekun mempelajari fluktuasinya, masyarakat pada umumnya dapat mengerti bahwa perubahan nilai mata uang dapat mempengaruhi harga bahan bangunan dalam dua cara,

1) Depresiasi, suatu istilah mata uang yang kita pakai mengalami penurunan terhadap mata uang negara lain. Depresiasi mengakibatkan harga bahan bangunan impor menjadi lebih mahal dalam mata uang lokal. Bahan semisal keramik, kaca, bata beton ringan, dan lain sebagainya yang diproduksi dari negara lain menjadi lebih tinggi di pasaran lokal.

2) Apresiasi, istilah kebalikan dari depresiasi. Ketika nilai mata uang suatu negara mengalami apresiasi terhadap mata uang lokal, maka harga bahan bangunan impor akan menjadi lebih murah, dan ini dapat menyebabkan harga bahan bangunan negara lain menjadi lebih rendah.

Selain perubahan nilai mata uang, inflasi merupakan perihal yang harus juga diperhatikan ketika hendak memiliki properti rumah. Laju tingkat inflasi mempengaruhi masyarakat mengeluarkan uangnya untuk membeli barang, terutama properti hunian. Inflasi sendiri diukur dengan indeks harga konsumen (IHK), yang mengukur harga dari sekumpulan barang dan jasa yang dibeli keluarga atau individu rata-rata. Jika indeks tersebut naik, berarti harga jasa dan barang meningkat, yang menunjukkan adanya inflasi.

Tingkat inflasi yang tinggi dapat menyebabkan uang menjadi kurang bernilai, karena seseorang harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang sama. Inflasi yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan tabungan uang yang tersimpan berkurang nilainya atas barang dan jasa yang tersedia.

Beli Rumah dengan Emas

Orang tua-orang tua dulu sebenarnya sudah memberikan contoh bagaimana emas sangat membantu perekonomian keluarga. Untuk menunjukkan status sosial, bahkan ada yang menggunakan emas sebagai perhiasan di seluruh badan.

Hal tersebut dikarenakan emas memiliki nilai yang aman dan stabil, aset yang tidak terpengaruh atas fluktuasi nilai mata uang, maupun inflasi yang terjadi dari tahun ke tahun. Dibandingkan uang, emas jelas sangat berharga.

Namun pasalnya, emas bukanlah alat pembayaran  sah meski di era digital ini bisa dijadikan aset tabungan. Nilainya yang aman dan stabil menjadikan masyarakat merasa lebih nyaman dengan ide membeli rumah menggunakan emas daripada uang tunai.

Membeli properti rumah dengan emas sebagai pembayarannya merupakan ide yang tidak lazim dilakukan. Tapi pada dasarnya sangat mungkin dilakukan. Ide ini dapat dilakukan kelompok Milenial maupun Gen Z untuk membantu mereka membeli properti rumah mereka di masa depan.

Ada beberapa faktor kenapa emas sangat efektif bagi kelompok usia ini untuk memiliki properti hunian dambaan mereka. Diantaranya,

1) Emas merupakan aset likuid, yang dengan mudah dijual atau ditukar kapan saja. Selain nilainya yang tidak terpengaruh oleh fluktuasi mata uang dan inflasi, emas tidak terpengaruh oleh faktor lokasi dan waktu, sehingga lebih mudah diperdagangkan.

2) Emas memiliki risiko yang lebih rendah. Fluktuasi ekonomi atau politik tidak akan mempengaruhi nilainya sebagai aset berharga. 

3) Emas memiliki kemampuan untuk menjaga nilainya di masa depan. Sebagai aset berharga, emas dianggap aman dan memiliki nilai yang cenderung stabil, atau bahkan meningkat seiring waktu.

4) Emas juga dapat digunakan sebagai jaminan atau agunan dalam proses pengajuan kredit rumah.

Pengajuan Kredit Rumah dengan Emas

Emas dapat digunakan sebagai jaminan atau agunan dalam proses pengajuan kredit rumah. Biasanya, bank atau lembaga keuangan lainnya akan meminta nasabahnya untuk menyertakan jaminan atau agunan dalam proses pengajuan kredit rumah. Agunan tersebut bisa berupa tanah atau properti lainnya, atau bisa juga berupa emas. Jika nasabah menyertakan emas sebagai agunan, maka bank atau lembaga keuangan tersebut akan menyimpan emas tersebut selama masa jatuh tempo kredit. Jika nasabah tidak dapat membayar kembali kreditnya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, maka bank atau lembaga keuangan tersebut berhak menjual emas tersebut untuk menutupi kerugian yang terjadi.

Sebelum menggunakan emas sebagai jaminan kredit rumah, ada baiknya jika nasabah mempertimbangkan beberapa hal berikut:

·       Nilai jaminan emas harus dihitung dengan benar. Bank atau lembaga keuangan akan menentukan nilai emas berdasarkan harga pasar emas saat itu. Jadi, nasabah harus memastikan bahwa nilai emas yang disertakan sebagai agunan sesuai dengan harga pasar emas saat itu.

·       Nasabah harus memahami risiko yang terkait dengan penggunaan emas sebagai jaminan. Emas merupakan investasi yang fluktuatif, sehingga nilainya bisa naik atau turun dari waktu ke waktu. Jika harga emas turun, maka nilai jaminan yang disertakan oleh nasabah juga akan turun, dan hal ini bisa mempengaruhi kemampuan nasabah untuk membayar kembali kreditnya.

·       Nasabah harus memastikan bahwa emas yang disertakan sebagai jaminan merupakan emas yang sah dan tidak terlibat dalam kegiatan ilegal. Bank atau lembaga keuangan biasanya akan meminta dokumen pendukung seperti sertifikat kepemilikan emas atau faktur pembelian emas untuk memverifikasi bahwa emas tersebut merupakan emas yang sah.

Sebelum menggunakan emas sebagai jaminan kredit rumah, ada baiknya jika nasabah mempertimbangkan semua risiko yang terkait dan memastikan bahwa keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat.

Kesimpulan 

Kelompok usia Milenial maupun Gen Z memang memiliki faktor-faktor yang menyebabkannya kesulitan membeli properti rumah yang terasa semakin tak terjangkau harganya. Tetapi bukan berarti mereka tidak berkesempatan mendapatkan hunian layak di masa depan.

Sekedar tekun belajar dan bekerja, serta rajin menabung, belum cukup. Milenial maupun Gen Z harus mengambil momentum untuk menjadi lebih cerdas dengan mencari informasi tentang cara membeli rumah yang tepat. 

Selain mencoba untuk berinvestasi atau menabung emas untuk kepentingan membeli hunian idaman, pembiayaan sekunder perumahan dapat dilakukan untuk menyempurnakan niat membeli properti rumah.

Pembiayaan sekunder perumahan adalah pembiayaan yang digunakan setelah pembiayaan utama (primary financing) telah diselesaikan. Pembiayaan utama biasanya merujuk pada pembiayaan yang digunakan untuk membeli atau membangun rumah, sedangkan pembiayaan sekunder perumahan merujuk pada pembiayaan yang digunakan untuk memperbaiki atau memodifikasi rumah yang sudah ada.

Contohnya, jika seseorang membeli rumah yang sudah ada dengan menggunakan pembiayaan utama, pembiayaan sekunder perumahan dapat digunakan untuk memperbaiki atau memodifikasi rumah tersebut, seperti renovasi atau penambahan fitur baru. Pembiayaan sekunder perumahan dapat diberikan oleh berbagai sumber, termasuk perusahaan pembiayaan, bank, dan lembaga keuangan lainnya, seperti halnya PT. Sarana Multigriya Finansial (Persero).

Untuk informasi lebih lanjut kalian dapat mengunjungi akun Instagram @Inveseries dan @ptsmfpersero.

Gen Z Cari Jodoh : Jangan Lupa Restu Ibu!

 

Gen Z Cari Jodoh. (sumber ilustrasi : johnhain/pixabay

Gen Z atau Generasi tech-savvy adalah manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mereka hadir selayaknya manusia, yang unik dan memiliki banyak potensi. Bayangkan saja, mereka lahir dan dibesarkan pada saat teknologi digital mengalami perkembangan pesat. Ketika orang tua mereka mengembangkan komunikasi dan sistem kerja melalui Internet of Things (IoT), bayi-bayi Gen Z ikut melihat dan mengutak-atik gadget ayah dan ibu mereka.

Bagi para peneliti, Gen Z sudah memiliki gadget pribadi semenjak dari umur 10 tahun. Paling minim mereka menggunakannya 3 (tiga) jam per hari. “Kapanpun itu benar-benar dimulai, kita dapat dengan aman mengatakan bahwa kelompok ini masih muda dan tidak pernah mengenal kehidupan tanpa teknologi digital,” demikian yang dilansir oleh BBC, Alexis Abramson, pakar pengelompokkan generasi dan dikutip oleh Ruang Guru.

Masih banyak lagi stigma tentang Gen Z ini sebenarnya. Melalui salah satu konten yang saya temui di platform media sosial, mereka dicirikan dengan mudah mengalami mental breakdown. Meski hidup dan bekerja dengan bantuan teknologi, mereka adalah kelompok yang tekun, haus akan inovasi dan kolaborasi, serta berani tampak beda.

Gen Z dan Cari Jodoh

Mereka yang kreatif dan open-minded tidak bisa diatur-atur hidupnya, apalagi kalau berhubungan dengan jodoh. Jadi jangan coba-coba mengatur masa depan mereka layaknya cerita Siti Nurbaya, yang dijodohkan dengan tengkulak kaya agar bisa membayar hutang-hutang keluarga. Hal itu tidak bisa diterima oleh mereka karena dianggap tak lagi relevan.

Mencari jodoh bagi Gen Z adalah hak preogratif yang tidak bisa diintervensi. Coba saja kita saksikan memeberupa quotes di bawah ini sebagai contoh,

Sumber : IG @gadisturatea


“Allah sudah mendesain rupa sesuai dengan yang jodoh kita inginkan”.

Betapa mindset mereka tentang jodoh sedemikian independent dan idealis. Bagi mereka, pasangan masa depan mereka adalah pemberian Tuhan yang sudah disesuaikan dengan harapan dan kebutuhan menjalani masa depan bersama.

Itulah kenapa kelompok kelahiran tahun 1995 hingga 2010 ini tampak santai menjalani hidup. Gen Z merupakan tipikal yang tidak memaksakan diri mencari pasangan. Cenderung sibuk dengan membangun jejaring pertemanan adalah gaya hidup mereka. Maka tak jarang kita perhatikan kelompok ini senang berpetualang, dan melakukan travelling, kemudian membagikannya dalam bentuk konten yang kreatif di akun media sosial miliknya.

Kualitas di atas Kuantitas

Tapi jangan salah mengartikan bahwa Gen Z adalah tukang rebel loh ya. Mereka itu diam-diam paling terdepan melihat orang tuanya bahagia. Jadi, pencarian jodoh bagi kelompok ini bukanlah persoalan yang teramat besar.

Kalaupun semisal Gen Z Indonesia kurang terbuka memperkenalkan calon pasangannya kepada orang tuanya, itu justru karena kepedulian mereka kepada keluarga. Mereka tidak ingin terjadi kehebohan ataupun kegaduhan. Tipikalnya memang menjauhi hal-hal tersebut. Karena semua jalinan kasih dan asmara yang terjadi harus berjalan secara alami, yang menunjukkan karakternya yang halus dan romantis. 

Mungkin berdasarkan itulah kenapa orang-orang menganggap kebanyakan Gen Z gampang mengalami mental-breakdown. “Kualitas di atas kuantitas”, yang mengindikasikan bahwa mereka memiliki subjektivitasnya masing-masing.

Tak jarang kebanyakan orang menginginkan Gen Z lebih mampu mengemukakan pendapat dan perasaannya secara langsung dan terbuka kepada orang tua mereka, khususnya terkait calon pasangannya. 

Ketemu dan Minta Restu

Tidak ada salahnya Gen Z langsung ketemu dan minta restu kepada ayah dan ibu mereka, untuk hal apapun itu. Ajakan akun Instagram Pak Erick Tohir ini dapat menjadi inspirasi bagi siapapun, khususnya Gen Z untuk memulai meminta restu kepada orang tua. Ibu mana sih, yang gak ingin anaknya bahagia, ya kan..

Sumber : IG @ericktohir


Sebagai technology-savvy ya, sempatkanlah menghubungi ibu di momen Hari Ibu ini. Bertepatan pada tanggal 22 Desember 2022 kontak mereka, lalu sampaikan siapa sih calon pasangan kalian ke ibu kalian masing-masing. Kalau masih sempat untuk berkunjung langsung ke rumah, maka lakukanlah!

Mungkin Pak Menteri BUMN tersebut mention terkait kerjaan. Karena sebagaimana yang sempat dibahas di awal, kalian adalah generasi yang bekerja sangat tekun demi membangun masa depan. Tapi aku tahu kok, mencari jodoh bagi Gen Z juga sangat berarti bagi kalian kan.. Jadi mintalah restu Ibu atas hal apapun (hal yang halal serta baik tentunya). 

Meminta restu kepada orang tua, khususnya ibu, adalah bagian dari akhlak yang baik. Kalian perhatikan deh, di postingan pak Erick Tohir itu juga tampak foto salah satu pemain timnas Maroko yang menjadikan ibu mereka sebagai ratu di lapangan. Bagi saya, hal inilah yang menjadi pelengkap keberhasilan satu-satunya negeri Arab ini mampu menembuh semifinal Piala Dunia Qatar 2022.

Jadi jadikan pegangan bahwa restu dan kasih ibu adalah salah satu penunjangmu berhasil membangun masa depan. Termasuk menemukan jodoh yang tepat, ya.


Merawat Alam, Merawat Gagasan Masa Depan

"Merawat Alam, Merawat Gagasan Masa Depan". Dokpri


Merawat adalah kata kerja yang menyiratkan kesabaran. Sebuah dedikasi yang menuntut konsistensi dan komitmen atas gagasan. Seperti halnya pohon, dimana gagasan menjadi bibit yang harus disemai. Kemudian menjadi benih yang harus ditanam, disiram, dipupuk, dan dijaga hingga membuahkan hasil yang diharapkan.

Bicara tentang proses bercocok tanam, keduanya sangat mustahil dilakukan oleh sebagian besar penduduk perkotaan. Pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk menjadikan lahan perkotaan beralih fungsi sebagai sarana tempat tinggal dan gedung-gedung bertingkat. Pertumbuhan ekonomi juga meningkatkan aktivitas industri di lahan-lahan yang tersedia. Hampir tidak ada lahan yang dapat digunakan untuk bercocok tanam. 

Perihal ini turut mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat di kota-kota besar. Mengelola tanah sebagai lahan produktif tidak lagi menjadi prioritas yang harus diajarkan secara turun-menurun. Begitupun mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos dipersepsikan sebagai aktivitas memalukan.

Salah satu warga RW.01, Sunter Jaya, ikut berperan serta pengelolaan sampah dan penghijauan tanpa lahan di perkotaan. Dokpri


Namun, hal ini tidak berlaku ketika saya berkunjung ke Kampung Berseri Astra (KBA) yang terletak di wilayah Sunter Jaya, Jakarta Utara. Diatas tumpangan motor ojek online saya menemukan beberapa tong-tong composter berdiri di pinggir gang. Pada salah satu rumah warga, seorang anak kecil keluar dari pagar dan membuka isi tong yang terletak di depan rumahnya. Ia mengawasi isi didalam tong tersebut tanpa ada rasa jijik.

Perjalanan saya berakhir di Jl. Telaga Permata VI No.14, RW.01, Sunter Jaya, Kec. Tg. Priok, Jakarta Utara. Lebih banyak lagi tong-tong composter berjejer di pinggir gang terlihat daripada sebelumnya. Meski terasa sempit, gang tersebut tampak asri dengan pot-pot tanaman yang menghijau. Tanpa bau dari tong pengolahan composter. Tanpa hilir mudik serangga, khususnya kecoak. Dan, tanpa satupun sampah berserakan di jalan.

Pengasuh KBA Kampung Proklim Sunter Jaya, Jakarta Utara memperlihatkan isi dari tong-tong composter. Dokpri


Sebagai sesama warga dari kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pemandangan ini adalah sebuah fenomena lain. Digagas oleh RB. Sutarno, Kampung Berseri Astra (KBA) RW.01 telah mendapatkan predikat sebagai Kampung Pro Iklim dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Predikat Kampung Proklim berstandar nasional harus memenuhi 3 (tiga) kriteria,

Pertama, memenuhi mitigasi lingkungan yang lingkupnya terdiri dari pengelolaan sampah, hemat energi dan air, serta mitigasi kebencanaan.

Kedua, memenuhi standar mitigasi perubahan iklim dengan lingkup ketahanan pangan, penghijauan, serta budidaya ikan dan unggas.

Ketiga, berorientasi kepada penguatan kelembagaan lingkup RW, mulai dari membangun kerjasama dan silahturahmi antar-RW, menggerakan kader-kadernya untuk program pro iklim.

Infografis Pro Iklim. Sumber : Ditjen PPI-MenLHK.


Lahirnya Gagasan Merawat Alam

Lahir dari keprihatinan atas kondisi di lingkungannya bertempat tinggal, yang bisa banjir hingga berhari-hari, gagasan itu muncul. Akibat sampah yang menyumbat got, luapan air yang terjadi membawa sampah yang lebih banyak lagi. Bahkan sampah-sampah dari luar lingkungan tersebut bercampur dengan kotoran, aku Sutarno. 

Sebagai warga terdidik, penerima penghargaan Kalpatraru itu memandang persoalan ini sebagai peluang menciptakan solusi. Rumusan masalah disusun, lalu metode penyelesaian tercipta. Maka lahirlah gagasan untuk mengelola sampah dan penghijauan tanpa lahan di kawasan perkotaan. 

RB. Sutarno memandangi trofi Kalpataru miliknya. Dokpri


Saat menerangkan gagasannya itu, saya temukan sebuah kepercayaan diri yang besar dalam diri Sutarno. Namun sikapnya tenang, gaya bicaranya mengalir seperti aliran sungai. Terdapat banyak informasi penting tentang gerakan penghijauan di lahan padat penduduk ini. Semakin digali, semakin banyak inspirasi yang tersimpan didalamnya. Seperti tak akan pernah habis.

Keberlimpahan inspirasi ini berasal dari sebuah gairah yang dikatakan Orens Hariri di dalam bukunya yang berjudul “Break from the Pack” (2006), bekerja secara totalitas akan menghadirkan inovasi. Secara berulang, Hariri bahkan menambahkan sebuah proses “kegilaan” didalamnya. Itulah yang saya temukan ketika melakukan tur singkat di dalam kediaman Pak Tarno.

Lantai dasar rumah milik Pembina Proklim KBA Sunter Jaya ini dijadikan ruangan serba guna. Selain sebagai laboratorium mini, level terbawah bagian rumahnya menjadi ruang diskusi serta ruang pameran hasil karya. Di lantai duanya disulap menjadi perkebunan bioponik, dimana terdapat kolam lele dan kandang unggas yang menyatu dengan rerimbunan tanaman pot.

Lantai dua rumahnya itu dibuat sedemikian rupa sehingga terbentuk ekosistem mini yang nyaman dikunjungi, tanpa bau menyengat dari kotoran hewan, maupun gangguan nyamuk.

Tak hanya sampai disitu, pot-pot dari berbagai macam jenis tanaman terus menjalar ke lantai 3 hingga ke atap rumah. Sungguh takjub saya ketika menyadari pohon pepaya tumbuh menjulang di sebuah pot yang diletakkan di salah satu sudut atap rumah milik warga asal Kulon Progo, Yogyakarta itu. Dapat saya gambarkan atap rumah itu bagaikan oase di tengah langit kota.

Atap rumah Pak Tarno menjadi oase di tengah langit kota Jakarta Utara. Dokpri


Berawal dari proses composter, rantai makanan terjadi. Air penyulingan composter menghidupkan tanaman pot. Lalu, tanaman menghasilkan nutrisi bagi ikan dan unggas peliharaan. Dari tanaman itu juga manusia dapat bertahan dari berbagai macam kondisi. Contoh yang paling valid ketika kondisi sulit dikala pandemi terjadi dua tahun lalu.

Selain tinggal petik untuk diolah sebagai bahan dasar makanan, Pak Tarno sendiri pernah menjadikan beberapa jenis tanaman bioponiknya sebagai ramuan penambah imunitas badan. Dapur tetangga pun terbantu dengan berbagai jenis tanaman pot yang ada, seperti bayam, tomat, cabai, daun salam, jeruk, pepaya, dan lain sebagainya. Semua dapat dipetik secara gratis, dengan syarat ikut membudidayakannya secara kolektif.

Sulit dikatakan bahwa pengelolaan sampah dan penghijauan tanpa lahan di perkotaan ini memiliki celah kekurangan. Karena setiap detailnya dapat dikembangkan lebih jauh sebagai produk berbasis ramah lingkungan, selain dari sabun, sampo, pengharum ruangan, obat anti-nyamuk, pengurai septic tank, dan masih banyak lagi inovasi produk lainnya. 

Seluruh produk ramah lingkungan tersebut diproduksi dari rumah kediaman milik Pak Tarno, dan sangat terbuka kemungkinan dapat dikembangkan dari rumah-rumah warga lainnya dari seluruh Indonesia. Dalam pernyataannya, salah satu entitas dari Astra Grup turut memberi dukungan bagi usaha mikro berbasis lingkungan hidup ini, baik dari segi penjualan dan pengembangan inovasi.

RB. Sutarno di ruang kerjanya. Dokpri


Gagasan merawat alam, saya menyebutnya demikian. Sebuah gerakan yang tidak lagi melihat keyakinan individu. Setiap stakeholder turut mengambil bagian di dalam merealisasikannya. Pemerintah kota dengan keberlimpahan data dan pengampu kebijakannya, Astra dengan jaringan binisnya, serta lembaga swadaya masyarakat lain dengan jaringan kerelawanannya. Sumber daya yang dimiliki tiap stakeholder dapat menyatu dalam sebuah kolaborasi, untuk merawat gagasan ini kepada generasi berikutnya. 

3 Peran Penting Blogger Sebagai Garda Terdepan Penjaga Sumpah Pemuda


SUMPAH PEMUDA

Kami putra dan putri indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air indonesia

Kami putra dan putri indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa indonesia

Kami putra dan putri indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia

(Ilustrasi) 3 Peran Penting Blogger Sebagai Garda Terdepan Penjaga Sumpah Pemuda. Sumber : Rizky Rahmat Hidayat/Unsplash

 

Sumpah pemuda merupakan momen bersatunya para pemuda dari seluruh penjuru tanah air untuk mengucapkan ikrar mereka sebagai bangsa yang satu, berbahasa yang satu sekaligus menegaskan cita - cita untuk membentuk negara indonesia. 


Sumpah pemuda adalah hasil keputusan kongres pemuda kedua yang diselenggarakan selama 2 hari, yakni pada tanggal 27 sampai 28 oktober 1928 yang bertempat di Batavia, atau yang sekarang kita kenal sebagai DKI Jakarta. Peristiwa sumpah pemuda merupakan momentum awal perjuangan pemuda dalam menyatukan bangsa indonesia. Perjuangan tersebut tidak hanya berakhir sampai indonesia merdeka saja, tetapi harus terus berlanjut hingga anak cucu kita.

 

Menjaga ikrar sumpah pemuda tidak hanya menjadi tugas aktivis sejarah saja, tetapi menjadi tugas seluruh masyarakat indonesia dari berbagai kalangan dan profesi, termasuk para blogger. Blog sejatinya adalah suatu laman tulisan yang termuat sebagai posting pada sebuah halaman web umum. 

 

Blog mulai banyak dikenal penggunaannya di kalangan generasi kekinian pada tahun 2005-an, ketika sejumlah halaman web umum seperti blogger.com, dan wordpress.com mulai membuka laman hosting yang bisa digunakan oleh peselancar jejaring dunia maya untuk menempelkan tulisan-tulisan ringan tentang kesehariannya.

 

Jika pemuda generasi terdahulu menggunakan pertemuan - pertemuan sebagai wadah untuk menunjukkan eksistensinya, maka  pemuda generasi sekarang dapat menggunakan blog sebagai media kreativitas pemuda untuk mendorong pengakuan eksistensinya, menembus kekerdilan pergaulan yang disematkan oleh globalisasi. Pengakuan eksistensi pemuda dalam lalu lintas penggunaan internet cepat inilah yang nampaknya perlu untuk dimanfaatkan untuk menunjukkan semangat kebangsaan Indonesia.

 

Berikut ini merupakan 3 peran penting blogger sebagai garda terdepan penjaga sumpah pemuda :


Ilustrasi. Sumber : Polina Kuzovkova/Unsplash
 

Sebagai pengingat perjuangan generasi terdahulu

 

Karena memiliki peran aktif didalam dunia internet yang bergerak cepat, para blogger diharapkan dapat menulis atau memposting tentang sejarah sumpah pemuda. Hal ini bertujuan supaya masyarakat selalu ingat akan perjuangan para pemuda terdahulu dalam memperjuangkan berdirinya negara indonesia. Dengan peran aktif blogger dalam menulis dan memposting berbagai hal yang berkaitan dengan sumpah pemuda, diharapkan dapat menjadi pemicu semangat pemuda sekarang untuk menciptakan kreativitas positif dan terus mempertahankan ikrar sumpah pemuda bagi negeri ini.

 

Sebagai pemantik semangat perjuangan bagi pemuda masa kini

 

Kita berada di era teknologi internet berkekecapatan tinggi yang mana semua informasi berada di genggaman kita. Beragam informasi dari penjuru dunia bisa kita peroleh, baik itu informasi yang bermanfaat maupun informasi yang tidak bermanfaat, bahkan informasi yang menyesatkan seperti hoax, adu domba, dan sebagainya. 

 

Peran blogger sangat dibutuhkan untuk terus memposting segala hal yang berkaitan dengan semangat sumpah pemuda supaya tulisannya dibaca oleh generasi berikutnya, terutama memotivasi pemuda menciptakan kreativitas positif.


Mengalahkan serbuan informasi berbentuk hoax tentunya dengan memperbanyak konten yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dengan tersiarnya informasi tersebut, tentunya berdampak positif pada lingkungan kita maupun generasi muda untuk lebih semangat mengamalkan persatuan

 

Blogger sebagai agen perbaikan mental pemuda

 

Seperti yang kita ketahui bahwa akhir - akhir ini pemuda kita mengalami krisis identitas. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya para pemuda yang bergabung dengan organisasi kriminal seperti teroris, gengster, begal dan melakukan berbagai aksi kriminal yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

 

Sekiranya nenek moyang kita masih hidup, tentu mereka pasti sedih karena perjuangan mereka hanya sia - sia belaka karena mental penerusnya sudah sedemikian mengkhawatirkan. Disinilah setiap individu musti mengambil perannya masing-masing. Bahkan dengan goresan pena, kita berkesempatan menjadi agen perubahan kebenaran.

 

Sangat diharapkan kontribusinya untuk selalu menulis, memposting dan menyebarkan semangat sumpah pemuda tersiar ke seluruh kanal media sosial seperti blog, facebook, twitter, instagram dan sebagainya. Melalui layanan Telkom Grup, kabel optik terbentang ke seluruh Indonesia. Internet cepat milik IndiHome melayani kebutuhan masyarakat Indonesia mengakses informasi-informasi penting.

 

Maka, alangkah ruginya apabila kita tidak mengambil bagian untuk menebar semangat persatuan Sumpah Pemuda ini. Dengan banyaknya postingan mengenai sumpah pemuda, diharapkan para pemuda yang membaca postingan tersebut dapat terenyuh dan tergerak hatinya untuk ikut menjaga kesakralan ikrar sumpah pemuda dan meninggalkan berbagai perilaku negatif yang ada didalam dirinya. 

Mengenal Lebih Dalam : Hunian Ideal Versi Milenial

"Milenial yang lahir pada tahun 1980-1996 dapat dipastikan tengah membangun rumah tangga. Atau, diantaranya menyusun rencana bersama sang kekasih untuk membina keluarga suatu saat nanti. Kalangan usia dikisaran ini tentunya sudah memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar ketimbang gaya hidup boros. Salah satunya memikirkan hunian rumah yang ideal bagi keluarga mereka kelak."

"Mengenal Lebih Dalam : Hunian Ideal Versi Milenial". Ilustrasi : Pixabay/Angela_Yuriko_Smith


Menurut Rainier Lazar Hadiprodjo dan Martin Halim (2021, hal. 1077), bahwa perumahan merupakan sebuah lingkungan yang terdiri dari kumpulan unit-unit rumah tinggal yang dimana memungkinkannya terjadi interaksi sosial diantara penghuninya. Fisik perumahan juga dilengkapi prasarana sosial, ekonomi, budaya, dan pelayanan yang merupakan subsistem dari kota secara keseluruhan.

Deskripsi itulah yang membuat milenial dengan orientasi berkeluarganya mulai membayangkan kehidupan mereka kelak bersama pasangan dan anak-anak mereka. Sehingga, dengan kemajuan teknologi digital yang ada mereka melakukan pencarian hunian idaman melalui layanan internet yang tersedia.

Kemajuan yang terjadi dibidang teknologi digital sejatinya memanjakan milenial sebagai kelompok konsumen yang mudah mengakses beragam macam informasi produk, dan cenderung teliti didalam menggali kebutuhan mereka atas produk yang dicari. 

Khususnya di perkotaan, mereka lebih tertarik dengan rumah yang bergaya minimalis. Luas lahan juga tidak musti luas-luas amat. Karena pada dasarnya, mereka mengerti tanah diperkotaan semakin terbatas. Namun disaat bersamaan, mayoritas dari mereka memilih tanah disertai bangunan sebagai hunian pilihan.

Keputusan atas pilihan milenial terhadap hunian ideal tak terlepas dari peran keluarga besar. Sumber ilustrasi : Pixabay/Tumisu

Perihal ini tidak terlepas dari peran keluarga besar, khususnya orang tua, mempengaruhi keputusan milenial mencari hunian ideal. Stabilitas didalam hidup berkeluarga sejalan dengan pentingnya menjaga stabilitas pemasukan dari aktivitas bekerja. Maka tidak heran jika kalangan milenial lebih memilih rumah standar sederhana asalkan dekat dengan lokasi mereka bekerja.

Rumah standar sederhana ini sekali lagi berdasarkan definisi Kementerian Perumahan Rakyat Republik Indonesia tahun 2012, bahwa rumah sederhana adalah rumah yang pada umumnya dibangun di atas tanah dengan luas kavling antara 60m2 sampai dengan 200m2.

Faktor lain yang musti menjadi pendukung adalah akses ke transportasi publik, serta jaringan internet cepat. Kalangan muda-mudi lebih mengutamakan efisiensi, dan terintegrasinya mereka dengan kemajuan teknologi, khususnya digital. Dimana, mereka bisa mengecek keadaan rumah dari jarak jauh, dan bisa dengan cepat berangkat dan pulang dari aktivitas bekerja.

Contoh perumahan yang dekat dengan akses transportasi umum perkotaan. Sumber : catharempoa.damaiputra.com

Hunian Modern dan Ekslusif Tangerang Selatan

Pengembang selaku pelaksana penyedia hunian ideal bukannya tidak mengikuti tren ini. Disamping pemenuhan fisik dan layanan properti, mereka juga bekerjasama dengan pihak bank untuk menyediakan pembayaran yang mudah.

Proses perencanaan keuangan untuk pengeluaran operasional pembiayaan berguna untuk mengoptimalkan situasi keuangan para milenial.

Salah satu yang patut mendapat perhatian adalah pengembangan hunian modern dan ekslusif didekat kota Jakarta. Damai Putra Group melakukan inovasi dan pengembangan di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, yang letaknya sangat berdekatan dengan Jakarta Selatan. Kawasan ini masih menjadi yang paling diminati para pemburu properti, terutama dari kalangan milenial dan keluarga muda.

Site plan hunian ideal Catha Rempoa, Tangerang Selatan. Sumber : catharempoa.damaiputra.com

Tangerang Selatan merupakan kawasan yang paling diuntungkan bagi pembangunan infrastruktur transportasi. Lokasi yang strategis serta banyaknya pilihan akses dengan berbagai moda transportasi umum, seperti TransJakarta, JakLingko, MRT, KRL, dan jalan bebas hambatan dinilai memudahkan mobilitas mereka.

Catha Rempoa merupakan proyek pengembangan milik Damai Putra Group guna mendukung pemenuhan hunian tinggal ideal bagi kaum milenial yang berdekatan langsung dengan kota Jakarta. Berlokasi di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, akses transportasinya cukup mudah. Berjarak sekitar 7 (tujuh) menit ke MRT Lebak Bulus, calon penghuni Catha Rempoa bisa terakses ke tengah kota.

Di samping itu kawasan Catha Rempoa dikelilingi banyak fasilitas pendidikan, kesehatan, kuliner, supermarket, hiburan dan pusat perbelanjaan. Mengusung konsep exclusive townhouse, perumahan ini memiliki ruang terbuka hijau yang dapat mendukung aktivitas gaya hidup sehat dan bugar keluarga muda. DPG juga merancang perumahan ini dengan smart-modern design, menggunakan kemajuan teknologi digital.

Catha Rempoa dilengkapi dengan smart home system, dan smart door locksmart light bulb, dan CCTV yang dapat diakses selama 24 jam menggunakan jaringan internet cepat. Penghuni bisa bebas memilih layanan jaringannya, mulai dari IndiHome milik Telkom Grup, atau layanan lainnya.

“Progras pembangunan Catha Rempoa terdiri dari 3 (tiga) tahap. Diamana tahap pertama tersedia 76 unit dengan tiga tipe L5, L6, dan L7, dengan harga peluncuran perdana mulai sekitar 1 milyar rupiah,” ujar Hadi Putra, General Manager Sales Damai Putra Grup, ditengah peluncurannya (7/9/2022) kemarin.

Damai Putra Group adalah perusahaan properti yang telah berpengalaman lebih dari 41 tahun di Indonesia, dengan berkreasi dalam memenuhi kebutuhan pasar ddan keluarga Indonesia memiliki hunian ideal serta investasi berkualitas.

Perusahaan properti ini juga mengembangkan properti rumah, apartemen, kantor dan komersil yang ada di beberapa lokasi, yaitu Jakarta Timur, Bekasi, Sidoarjo, Jogja dan Magelang. Salah satu yang terkenal adalah pengembangan Kota Harapan Indah seluas 2200 Ha di Bekasi. Kini mereka melakukan ekspansi ke area baru yakni Tangerang Selatan, serta terus melakukan inovasi dan sinergi dengan para stakeholder untuk dampak solusi bagi masyarakat.

Perpaduan Teknologi Digital Hadirkan Dua Profesi Baru di Sektor Wakaf

Teknologi digital menciptakan banyak disrupsi. Hingga saat ini manusia bertahan dengan perubahan besar-besaran yang dihasilkan oleh perkembangan digital di seluruh dunia. Berbagai macam inovasi di ranah bisnis hingga kebutuhan pribadi tercipta, bahkan tidak menutup kemungkinan merambah ke sektor ekonomi Syariah.

KH. Ma'ruf Amin, Wakil Presiden R.I memberi sambutan secara virtual di acara pembukaan Rapat Kerja Forjukafi (7/9/2022) "Perpaduan Teknologi Digital Hadirkan Dua Profesi Baru di Sektor Wakaf". Sumber : Forjukafi


Persaingan yang dihasilkan oleh revolusi industri 4.0 ini tidak saja terjadi di tingkat lokal. Berbagai insan industri melihat kesempatan ini sebagai peluang meraup lebih banyak kemungkinan pasar hingga ke mancanegara menggunakan internet cepat dan murah.

Maka dari itu, secara spesifik tiap sektor industri memanfaatkan perubahan besar-besaran yang terjadi saat ini dengan mengembangkan pola cara, struktur, serta fungsi bisnis dan industri masing-masing.

Menarik untuk diikuti bahwa perekonomian Syariah pun ikut terlibat didalamnya. Potensi keuangan yang cukup besar belum sepenuhnya tersalurkan melalui perkembangan digital yang masif ini. Kita bisa ambil contoh salah satunya : Wakaf.

Wakaf dalam definisi mahzab Abu Hanifah adalah suatu perbuatan menahan suatu benda yang menjadi kepemilikan pribadi dan dipergunakan manfaatnya untuk kebajikan atau amal ibadah. 

Melalui definisi salah satu mahzab ini, dapat disimpulkan bahwa kepemilikan harta benda wakaf tidak lepas dari kepentingan si pewakaf (wakif). Sehingga, dibenarkan sekiranya wakif menarik kembali harta yang diwakafkannya, dan menjualnya setelah itu. 

Yang menjadi poin utama dari pengertian wakaf mahzab Hanafi ini adalah “sumbang manfaat”. Hal ini dikarenakan status kepemilikan harta benda tidak hilang meski pemiliknya mewakafkannya. Hanya saja, kemanfaatan harta tersebut tidak diperbolehkan untuk kepentingan si pemilik. Tetapi kemanfaatannya diberikan sepenuhnya kepada ummat, baik sekarang maupun yang akan datang.

Maka tidak heran sekiranya wakaf uang muncul sebagai fatwa berdasarkan mahzab Hanafi ini. Wakaf uang ini juga yang kemudian diadopsi oleh Pemerintah Republik Indonesia demi membantu terwujudnya program pengentasan kemiskinan mereka. 

Potensi di sektor wakaf uang Indonesia sendiri ditaksir mencapai 180 trilyun rupiah per tahun. Hal ini disampaikan secara virtual oleh Wakil Presiden Indonesia, KH. Ma’ruf Amin, pada pembukaan Rapat Kerja Nasional Forum Jurnalis Wakaf Indonesia (Forjukafi), di lantai 4, Perpustakaan Nasional, Jakarta (07/10/2022).

Pada pembukaan yang dilakukan secara virtual tersebut, KH. Ma’ruf Amin juga menegaskan bahwa penguatan literasi wakaf di Indonesia musti dilakukan secara berkelanjutan.  Perihal ini perlu terus didorong, bukan saja oleh Forum Jurnalis Wakaf Indonesia, tetapi juga seluruh kaum muslimin dimanapun berada.

Perpaduan Wakaf dan Teknologi Digital

Pada pembukaan Rapat Kerja Forjukafi kali ini melibatkan perpaduan teknologi digital. Disamping pelaksanaannya digelar dengan tatap muka langsung, pihak panitia membuka kesempatan bagi hadirin yang berkenan mengikuti rangkaian acaranya secara daring.

Dr. Imam Teguh Saptono, Wakil Ketua 1 Badan Wakaf Indonesia memberikan insight terkait wakaf di pembukaan Rapat Kerja Nasional Faorjukafi (7/9/2022). Sumber : Forjukafi


Belum lagi kabel optik Indonesia melalui Telkom Grup yang semakin bertambah ukuran panjangnya demi menjangkau kebutuhan internet murah masyarakat. Dengan adanya jaringan kabel internet cepat tersebut, banyak bermunculan penyedia layanan internet selain IndiHome. Yang mengartikan bahwa, teknologi digital menjadi kebutuhan penting masyarakat.

Begitupun sambutan dari Wakil Presiden Republik Indonesia, serta Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dilakukan secara virtual. Lalu, setelah acara sambutan selesai dilaksanakan, beberapa narasumber hadir menyampaikan wawasan terbaru di sektor wakaf. Salah satunya adalah munculnya 2 (dua) profesi baru pada sektor ini, diantaranya :

1. Filantropi Watch

Kebutuhan adanya Filantropi Watch didasarkan pada kebutuhan lembaga kemanusiaan berbasis Syariah untuk dimonitoring secara intens. Dimana baru-baru ini kasus yang diduga sebagai penyalahgunaan dana ummat menghantam dunia Syariah Indonesia.

Kasus yang dilakukan oleh salah satu lembaga kemanusiaan yang cukup besar tersebut menjadi indikator bahwa pengawasan kinerja dan penyaluran dana ummat harus benar-benar terwujud, agar kepercayaan ummat tidak luntur. 

Persoalannya hingga kini, Filantropi Watch sama sekali belum ada di Indonesia. Badan Wakaf Indonesia yang diwakili oleh Dr. Imam Teguh Saptono menjelaskan bahwa kebutuhan adanya profesi ini menjadi sangat urgen, dan bisa berdiri kapan saja dalam waktu segera.

2. Digital Wakaf

Kembali kepada perkembangan teknologi digital, bahwa disrupsi yang terjadi menjadikan maraknya kehadiran produk-produk digital di seluruh dunia, seperti misalnya Metaverse, dan Non-Fungible Token (NFT). Berdasarkan pendapat Dr. Imam bahwa hal-hal yang seperti karya digital yang berkaitan langsung dengan internet murah dan cepat dapat dijadikan barang yang dapat diwakafkan.

Berhubung perihal karya-karya digital ini memerlukan orang yang mengerti bagaimana menjaga, mengelola, dan mengembangkan karya digital sehingga menghasilkan manfaat bagi kepentingan ummat, maka lembaga wakaf selayaknya menyiapkan satu profesi baru yang bernama “Digital Wakaf”.

Popular Posts