Navigation Menu

featured Slider

Featured Post

Random Post

BonCabe, Pertama Ketemu di Pekanbaru, Berakhir Level 30 di Jakarta

 

Kota Pekanbaru adalah tempat pertama kali saya menemukan BonCabe. Sachet­ nya berwarna hitam. Dibawa oleh teman saya dari warung miliknya, lalu ditaburkan ke makanan untuk kami santap bersama-sama.

Saban hari menikmati produk sambal tabur membuat hal tersebut tersimpan sebagai kebiasaan. Hingga sesampainya saya balik ke Jakarta, meja makan kami tak pernah absen dari produk buatan Kobe Boga Utama ini.

BonCabe Level 30. Dokpri


Otak saya langsung mengidentifikasi BonCabe sebagai olahan makanan bernama abon cabe. Gak salah, memang. Bahan-bahannya sama. Fungsinya juga sama sebagai penambah rasa pada makanan.

Saya pernah melihat secara langsung pembuatan abon cabe rumahan. Pada tahun 2018, di salah satu desa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, seorang warga menawarkan saya mencicipi abon cabe buatannya.

Aneh aja menurut saya, abon yang biasanya dibuat dari daging sapi atau ayam, ini malah berupa cabe. Sempat merasa inseure, saya langsung jatuh hati ketika abon itu tercampur dengan nasi dan menyentuh lidah. Sensasional. Nikmatnya beda.

Pengalaman saya menikmati kuliner selama di Lombok pun terangkum di dalam sebuah botol BonCabe. Bubuknya bertekstur, dan ukurannya mudah tercampur dengan bahan makanan apapun. Sambal tabur BonCabe juga meresap ke dalam masakan yang ditaburinya.

Meski sedikit saja saya tabur, rasa pedas serta asinnya langsung terasa di lidah. Sensasinya begitu terasa. Apalagi kalau pakai sambal taburnya yang level 30.

Hal paling menarik adalah, sambal tabur ini tidak memiliki aroma menyengat yang mengganggu hidung. Persis sama dengan abon cabe yang saya rasakan selama di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

BonCabe level 30 memiliki segmennya sendiri bagi pecinta masakan pedas. Bagi saya pribadi, makanan pedas punya tantangan yang wajib ditaklukkan.

Cabai adalah komoditas tanaman yang memiliki sejumlah kandungan gizi yang baik bagi tubuh manusia. Menurut penelitian Medline Plus, cabai memiliki kandungan antioksidan dan vitamin c yang cukup besar.

Kandungan antioksidan dan vitamin c pada cabai dipercaya mampu memperkuat imunitas tubuh, mengurangi penggumpalan darah, dan membentuk zat kolagen yang berfungsi mempercepat pemulihan bekas luka pada kulit.

Jadi, gak ada istilah lagi insecure menikmati abon cabe.

Bangkit dari Ancaman Pademi dengan Falsafah Matahari Yogyakarta

Ketika cahaya matahari turun dan menghantam atmosfer, gelombangnya memantul di udara dan berpendar dalam berbagai macam warna.  Apa yang mampu ditangkap oleh mata manusia adalah pancaran sinar ultraviolet. Sebagiannya ada yang tertahan di lapisan ozon, dan ada pula yang mencapai ke permukaan bumi. Fenomena ini menciptakan atraksi warna yang disebut dengan keindahan alam.

Matahari pagi di Taman Mangun Yogyakarta. Dokpri

Dipercaya bahwa posisi lintang suatu kawasan mempengaruhi kuantitas dan kualitas sinar ultraviolet, terutama di Indonesia. Sebagai negara tropis yang berada tepat di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki keunikan dari sudut golden dan blue hours. Besaran gelombang cahaya yang masuk menciptakan keunikan panorama di nusantara. Tak jarang bagi fotografer profesional mengincar momen-momen tersebut.

Bicara tentang sinar ultraviolet bukan saja tentang keindahan warna yang dihasilkannya. Matahari sebagai simbol kehidupan merupakan sumber vitamin D yang dibutuhkan manusia, sekaligus peningkat mood yang paling utama.

Matahari dalam Perspektif Yogyakarta

Sekiranya menyempatkan diri ke Yogyakarta, salah satu daerah istimewa di Indonesia, kita akan disajikan bagaimana warga di sana mensyukuri anugerah Tuhan dalam bentuk keberlimpahan cahaya matahari. Di ladang-ladangnya, dipesisirnya, hingga ditepian jalan, serta mahakarya seni dan gerakan sosial-kemanusiaan.

Seperti halnya seorang Affandi yang menjadikan matahari sebagai bagian emblem miliknya. Lambangnya itu tertera di setiap lukisan yang dibuat, sebagai suatu bentuk keabsahan.  Ia merupakan grand maestro seni lukis. Karyanya memiliki reputasi internasional. Di dalam negeri sendiri, Affandi mendapat  penghargaan Bintang Jasa Utama oleh Presiden Indonesia, pada tahun 1978.

Matahari bagi seorang Affandi sebagai bentuk pengungkapan bahwa benda langit itu menjadi sumber kreativitasnya. Jika dijabarkan satu per satu atas emblem itu, matahari adalah hidupnya, tangannya adalah alatnya bekerja, dan kaki sebagai motivasinya untuk terus bergerak maju.

Berbeda dengan organisasi keagamaan-sosial-kemanusiaan yang bernama Muhammadiyah. Organisasi yang berdiri pada tahun 1912 itu menjadikan lambang syarikatnya didominasi oleh pancaran cahaya matahari.

Lambang itu dibuat oleh anak dari pendiri Muhammadiyah, K.H. Siraad Dahlan. Matahari sebagai sumber energi spiritual yang memancar di atas dunia, dengan harapan bahwa gerakan mereka mencerahkan ummat menuju prilaku yang membawa mashlahat.

Hidup Berdampingan dengan Pandemi

Ketika virus corona bermutasi di India, Indonesia menjadi salah satu negara yang tak luput dari serangannya. Jika pada gelombang wabah pertama, Covid-19 masih menggejala dikalangan orang-orang kaya, kini jangkauannya telah mencapai kalangan masyarakat berpendapatan rendah.

Dampak yang dirasakan bukan hal yang sepele. Ini dikarenakan mereka merupakan kelompok yang rentan. Kehidupan perekonomian mereka bergantung pada interaksi yang terjalin dengan kelompok masyarakat lainnya. Ketika interaksi mengalami keterbatasan, hidup dari kelompok ini makin ambruk, dan beban negara akan semakin bertambah.

Persoalan akan menjadi sangat serius saat virus varian delta ini menjangkiti mereka. Kecepatan penularan dan kesulitan biaya perawatan menjadi isu yang harus segera ditangani. Secara data, dampaknya sudah bisa dirasakan. Ttingkat penularan sulit dikendalikan, dan rumah sakit harus bekerja ekstra demi memenuhi kebutuhan pasien positif Covid-19. 

Wisata lingkungan istana kesultanan yogyakarta sempat dibuka dengan pemberlakuan protokol kesehatan di tahun 2020. Dokpri,


Berbicara penanganan wabah virus corona yang telah bermutasi tentu harus berdasarkan anjuran dari sains kesehatan. Daerah Istimewa Yogyakarta secara epidomologis adalah wilayah padat. Solusi yang relevan hingga kini adalah gencar menjalani prilaku hidup sehat, menjaga jarak interaksi sosial, menyukseskan vaksinasi, dan memenuhi kebutuhan pasien positif corona virus disease.

Keempat hal yang menjadi anjuran ahli kesehatan dunia ini diupayakan terakomodasi sepenuhnya oleh pemerintah provinsi D.I Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwono selaku pemangku kebijakan juga menerapkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sebagaimana arahan pemerintah pusat.

Pembatasan kegiatan masyarakat merupakan salah satu langkah paling efektif menekan angka penularan virus antar manusia. Pada akses jalan menuju pusat kota, khususnya jalan Malioboro yang terkenal padat itu penyekatan dilakukan. 

Dalam pantauan, jumlah pengunjung kawasan malioboro hanya dikisaran 200 hingga 300 orang dari sebelumnya mencapai 2.000 orang lebih per harinya. Atas ikhtiar ini, angka penularan Covid-19 di Yogyakarta terpantau ikut menurun (11/8). Angka ini memang tidak berdampak pada peningkatan ekonomi warga D.I Yogyakarta, namun berdampak langsung kepada kesehatan warga, yang saat ini menjadi prioritas utama. Karena kesehatan adalah pangkal dari kedatangan rezeki yang lebih besar.

Fokus pemerintah daerah selanjutnya terfokus kepada penanganan kasus aktif. Sebagaimana diketahui bahwa Yogyakarta berstatus wilayah padat secara epidomologis. Isolasi mandiri menjadi kurang tepat bagi sebagian warga kasus positif Covid-19. Oleh karenanya, Sri Sultan Hamenkubuwono X menyediakan shelter isolasi secara terpusat (isoter) sebagai pengganti isolasi mandiri (isoman).

Pasien bergejala ringan yang tinggal di lokasi kurang kondusif dapat memanfaatkan shelter isoter ini. Pihak pemprov bahkan sampai melaksanakan program door to door untuk menjemput warga pindah ke shelter. Sri Sultan sendiri sampai menghimbau warga di seluruh kabupaten/kota  untuk mendorong tetangganya yang isoman pindah ke shelter tersebut.

Semua shelter itu ada induknya, yaitu rumah sakit. Biarpun shelter di kabupaten-kabupaten, itu tetap merujuknya ke rumah sakit. Kalau isoman tidak ada yang mengawasi,” tuturnya sebagaimana dikutip melalui jogjaprov.go.id (6/8).     

Berkejaran dengan Kecepatan Rumor

Kehadiran pandemi dipastikan akan mengubah cara hidup baru daripada yang sebelumnya. Ini adalah kepastian. Manusia akan semakin bergantung kepada teknologi, tingkat belanja warga akan meningkat tajam setelahnya, dan perasaan kekeluargaan antartetangga makin erat.

Akan tetapi, menuju hal tersebut membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Waktu, potensi, dan sumber daya. Apalagi, di dalam realitanya, pemberlakuan protokol kesehatan dan program vaksinasi massal yang berhadapan langsung dengan rumor yang tengah beredar.

Harapan dan ketakutan berputaran di dalam benak masyarakat. Gerak pemprov DIY berupaya mendahului kecepatan kabar burung yang beredar tersebut, dengan akselerasi vaksinasi yang menyasar RT/RW di wilayah masing-masing.

Gubernur tengah memobilisasi tenaga dari TNI/Polri dan pihak puskesmas dengan sistem jemput bola ke rumah-rumah warga. Hingga bulan Agustus ini, program vaksinasi di wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah mencapai 60 persen lebih. Diharapkan dapat mencapai angka 100 persen pada bulan Oktober 2021 nanti.

Status Vaksin Provinsi D.I Yogyakarta. Sumber : vaksin.kemenkes.go.id

Membangun Masyarakat Tangguh.

Senjata yang paling ampuh di dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini adalah kesabaran. Tidak ada ganjaran yang lebih baik diterima kecuali dengan sabar didalam menjalani arahan yang berlaku.

Keberhasilan pembangunan daerah, maupun program penanganan pandemi amat bergantung kepada kesanggupan setiap elemen masyarakat maupun pemangku kebijakan di dalam mengendalikan diri, dan tidak hanyut akan kebiasaan lama maupun rumor yang beredar.

Dengan sikap yang disiplin tentu tidak sulit untuk mendahulukan kepentingan bersama di atas ego pribadi, sebagai unsur penting bagi kelanjutan pelaksanaan pembangunan di tahun-tahun mendatang.

Tanpa disadari, kehadiran pandemi Covid-19 ini menjadikan dunia di sekeliling kita melakukan perubahan yang sebelumnya dirasa tidak mungkin, meski sejatinya proses itu tengah berlangsung. Begitupun pemanfaatan teknologi digital dan kemampuan memilah berita yang benar serta memberikan kemashlahatan.

Gelapnya dunia akibat wabah corona virus disease akan berganti dengan terbitnya matahari di ufuk timur. Sepanjang proses yang berlangsung biarlah kita yang menjadi secercah harapan dengan saling menguatkan dan mencerahkan, minimal tetap mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

Hingga saatnya tiba, jaga optimisme, terus berpikir rasional, dan melangkah maju dengan tegar, menuju Indonesia bangkit.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Pembuatan Konten Media Sosial dalam rangka Memperingati HUT RI ke-76 dengan tema Merdeka dari Pandemi : Bersatu dalam Keberagaman untuk Indonesia Bangkit yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY".


Wisata ke Siak, "My Favourite So Far"

Matahari Terbit di Siak Sri Indrapura. Dokpri


Wisata ke Siak membutuhkan waktu sekitar 3 (tiga jam) perjalanan dari kota Pekanbaru, Riau. Keluar menuju Jalan Lintas Timur Sumatera, lalu berkendara beberapa menit ke arah selatan. Belok kiri begitu ketemu persimpangan Minas, setelah itu terus bergerak hingga masuk Maredan, dan Perawang.

Sebelum menyeberang melalui Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, kita akan disambut jejeran pohon trembesi. Dahan-dahannya berfungsi sebagai kanopi, menaungi pengendara dari sinaran matahari. Pohon ini juga dikenal baik didalam menyerap karbon dioksida sehingga menghasilkan kualitas udara yang sehat.

Albiza Saman, atau nama lain dari Trembesi mengingatkan bangsa ini akan Presiden Soekarno. Jenis pohon tersebut ditanam sendiri oleh beliau di Istana Negara. Hingga kini, pohon tersebut masih terawat dengan baik di sana.

Sebetulnya, Siak dengan sang proklamator kemerdekaan itu memiliki ikatan sejarah yang kuat. Begitu Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya di tahun 1945, Kesultanan Siak menyatakan diri sebagai bagian dari negara Republik Indonesia, dan menyerahkan kekayaan mereka sebesar 10juta Gulden (sekitar 81milyar rupiah) melalui Soekarno.

Selain menikmati kanopi jalanan aspal, wisata ke Siak bisa juga lewat jalur sungai. Menaiki speed boat dari Pelabuhan Sungai Duku, Pekanbaru, para wisatawan dapat menikmati perjalanan bak kisah-kisah kolosal selama 2 (dua) jam. Karena sejatinya, Sungai Siak merupakan urat nadi perekonomian dan transportasi Kesultanan Siak Sri Indrapura pada zaman dulu.

Aliran Sungai Siak yang menghipnotis. dokpri

Daya tarik wisata ke Siak tak terlepas dari sejarahnya yang panjang. Oleh karena itu, ciri khas daripadanya tetap dipertahankan, seperti halnya bangunan-bangunan bersejarah Siak Sri Indrapura.

Mengambil kutipan dari jurnal elektronik Universitas EsaUnggul, bahwa suatu wilayah memiliki catatan historis yang membentuk citra, bahkan jati diri yang khas (Khairul Mahadi & Tuwanku M. Ridha, 2012 : 61). Siak adalah contoh dimana aset wisatanya dapat dikembangkan lebih jauh dengan pendekatan cagar budaya.

Pengalaman Wisata ke Siak Sri Indrapura

Keinginan kami wisata ke Siak digerakkan oleh rasa penasaran akan kemegahan Istana Siak Sri Indrapura. Pertama kali mendengar namanya di telinga, saya kira tak jauhlah ia dari arsitektur adat Riau pada umumnya.

Ternyata saya salah.

Istana Siak saat siang hari. Dokpri

Bangunan itu tampak megah dengan perpaduan pesona budaya Melayu, Arab, dan Eropa. Dibangun oleh kolega dari Jerman sebagaimana permintaan Sultan ke-11, Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, pada tahun 1889. Saat itu memang perekonomian Kesultanan Siak tengah jaya-jayanya.

Rasa penasaran terbayar ketika sesampainya kami di lokasi, saat tengah malam hari. Istana yang memiliki nama lain “Matahari Timur” itu bercahaya aram-temaram. Disorot lampu dari berbagai penjuru, ia-nya seakan cahaya mentari yang melewati bulan, lalu memantul ke bumi.

Perlu beberapa saat lamanya kami mengagumi keindahan istana di kala gelap malam. Jalan nan sepi dan sunyi menambah rasa penasaran. Kami pun berkeliling sejenak di kawasan Kampung Dalam.

Istana Siak di saat malam. Dokpri

Bergerak ke arah timur, sepanjang jalan berdiri bangunan oriental bercat merah. Warnanya menyambut kehadiran kami dan menandakan bahwa lingkungan tersebut hidup berkelompok warga keturunan Tionghoa.

Kendaraan yang kami tumpangi lalu memutar ke bagian belakang komplek istana. Sepanjang jalan itu beberapa model rumah adat siak masih terjaga. Kondisi jalanan bersih dari sampah domestik. Tidak pula terdengar hingar-bingar kehidupan malam. Kawasan Kampung Dalam, Kabupaten Siak, tampak bermartabat.

Jalan Kaki di Pagi Hari

Bakda subuh, misi wisata ke Siak saya lanjutkan dengan berjalan kaki. Rutenya dari Jalan Datuk Tanah Datar hingga ke Jalan Kartini. Ruas jalannya lebar, mampu dilewati dua buah kendaraan beroda empat.

Meski hari itu telah memasuki hari senin, tak nampak kesibukan seperti halnya kota-kota besar. Yang terlihat hanya empat orang pekerja kebersihan tengah mengangkut tong-tong sampah ke dalam truk.

Maharatu Center jelang terbit matahari. Dokpri

Sepanjang perjalanan benar-benar bersih dari sampah. Lalu ketika langit sedikit agak terang, dua pesepeda muncul dari ujung jalan. Mereka menggowes kendaraannya serasa penguasa jalanan. Tetapi bagi saya, hal itu menunjukkan jalanan ini bebas dari hambatan dan polusi kendaraan bermotor.

Setelah mendekati area komplek istana, saya berjalan ke arah selatan. Melewati pemadam kebakaran, perpustakaan, lapangan rumput, serta berakhir di alun-alun Maharatu Center dan Tepian Bandar Sungai Jantan.

Sungai Siak tampak tenang dan menenangkan. Alirannya memberi pesan kesabaran akan esok yang lebih baik. Maka tepat kiranya pemerintah daerah menjadikan sepanjang tepian sungai sebagai  ruang publik, tidak ada sama sekali bangunan memunggungi sungai.

Ratusan tahun sungai ini menjadi saksi hidup sebuah peradaban dan perseteruan politik antar negara. Di seberang sana terdapat bangunan sejarah lainnya : Tangsi Belanda, dan terawat dengan baik sebagai bagian rekam sejarah kesultanan Siak Sri Indrapura.

Tangsi Belanda tetap terjaga hingga kini. Dokpri

Rangkaian wisata ke siak ini saya akhiri dengan berinteraksi bersama penduduk sekitar. Mulai dari penjual makanan, bocah-bocah lokal, pengurus musholla yang umumnya memiliki ukuran seluas masjid jami’, dan warga keturunan Tionghoa.

Matahari Terbit (akan) Makin Bersinar

Siak Sri Indrapura adalah konsep wisata yang memadukan eco-environtment, budaya, dan rekam jejak peradaban yang dimiliki Indonesia. Sungainya pun dilintasi kapal-kapal pengangkut yang menandakan hidupnya perekonomian melalui jalur perairan mereka hingga kini.

Klenteng Hock Siu Kiong, salah satu bukti perpaduan budaya yang terjadi di Siak Sri Indrapura. Dokpri

Melalui pendekatan analisis faktor internal yang dikemukakan jurnal jurusan Teknik Planologi, Universitas Esa Unggul, Siak Sri Indrapura lebih banyak memiliki kekuatan pariwisata dibandingkan kelemahannya khas (Khairul Mahadi & Tuwanku M. Ridha, 2012 : 61).

“Ada hal yang tak boleh dilupakan, kekhasan atau jati diri sebuah kota ditentukan bagaimana kita memberikan posisi yang tepat terhadap bangunan-bangunan lama dalam kaitan dengan perkembangannya.”

Peninggalan sejarah ini perlu diketahui oleh banyak pihak, sebagaimana dahulunya Siak Sri Indrapura menguasai hingga ke negeri Malaka. Seperti saya yang berakhir berburu wisata ke siak karena haus akan sejarah bangsa.

#IniKotaku #EsaUnggul

Kesan Saya Tinggal Sehari di Pekanbaru

Jembatan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Pekanbaru, Riau. (Dokpri) 

Kesan yang didapat seseorang hadir ketika sebuah gambaran utuh suatu obyek sampai kepadanya, baik pengalaman pribadi, atau melalui pengalaman orang lain. Pandangannya terkadang bias, atau bisa jadi objektif, tergantung bagaimana seseorang itu mengolah informasi yang didapatnya.

Terkait kota Pekanbaru, Riau, saya pernah melewatinya ketika mengawal barang bantuan bagi korban tsunami Aceh di tahun 2005. Truk yang saya tumpangi kala itu melewati jalan utama kota. Arsitekturnya kental akan budaya Melayu. Dahan-dahan pohon meringkuk di pinggiran jalan layaknya kanopi. Tanaman hias membelah jalan bersama tiang-tiang lampu. Di tengah jalan itu juga berdiri marka-marka bertuliskan Asmaul Husna.

Sepanjang lintas timur Sumatera yang saya lewati, hanya kota ini yang memberikan kesan kuat bagi saya. Sebuah kota yang rapih, asri, dan religius. Saya juga menyaksikan bagaimana Riau merupakan provinsi yang kaya akan minyak, baik di daratannya maupun di lautannya.

Enam belas tahun berlalu. Saya mendapat kesempatan tinggal di ibukota provinsi Riau tersebut. Seorang kawan mengajak saya menginap di rumahnya untuk membahas kemungkinan ide-ide bisnis yang sekiranya dapat dikembangkan di sana.

Yang menjadi kesamaan visi di antara kami adalah kami sama-sama mengurus usaha di bidang agrobisnis. Saya di pengadaan daun singkong, sedangkan dia di kelapa sawit. Tapi usaha saya mengalami kendala. Saya ditipu oleh petani asal Banten. Di saat bersamaan, rekan usaha saya menunjukkan ketidakpedulian.

Kesempatan ini saya anggap sebagai bagian dari takdir Ilahi. Saya punya keinginan lama untuk merasakan tinggal di Pekanbaru ini. Dan, inilah saat yang tepat.

Saya kemudian memesan tiket bus di terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Karena misi ini bermodalkan nekat, harga tiket yang tidak wajar pun saya sikat. Jadilah sore itu saya berangkat.

Keberangkatan ini saya percepat berhubung isu pelarangan mudik antisipasi covid. Di seberang sana, teman saya sudah mewanti-wanti melalui Whatsapp, bahwa kemungkinan besar ia masih di kebun sekiranya saya sampai di Pekanbaru.

Saya tidak peduli.

Kalau dihitung-hitung, perjalanan saya dari Jakarta ke Pekanbaru kali ini memakan waktu 3 (tiga) hari. Sebelumnya sekitar 4 atau 5 hari. Ini dikarenakan kami sempat memasuki salah satu ruas tol Trans-Sumatera. Kalau saja non-stop lebih dari satu ruas, pasti bus kami sudah sampai lebih awal.

Jalan utama kota yang berulang tahun tiap tanggal 27 Juni itu tidak mengizinkan bus melewatinya. Kecuali bus Trans-Pekanbaru. Yup, saya menemukan sistem transportasi busway setelah bus kami memasuki terminal AKP. Maka setelah berhenti sejenak di terminal, bus kami berlabuh di agen resmi miliknya.

Kedatangan kami sekitar pukul 6 pagi. Saya dijemput adik dari kawan saya tersebut. Karena kelelahan, sesampainya di rumah, saya memilih ranjang kasur sebelum makan dan mandi. 

Tiga hari duduk manis di bus ternyata membuat saya kehilangan ritme hidup. Tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali duduk-makan-tidur-baca buku. Sholat saya jamak ketika bus mampir di rumah makan dengan harga sepiringnya yang fantastis.

Mejelang sore hari, adik kawan saya mengajak keliling kota. "Pekanbaru ni gak luas, bang. Mutar satu jam aja, udah bosan. Gak ada pantai juga," terangnya.

Yang bikin herannya saya langsung percaya begitu saja perkataan orang ini. Kesan yang saya simpan selama 16 tahun langsung menguap bagaikan asap. Di zaman now, ada realita yang harus dipahami. Setidaknya bagaimana kota ini bertarung dengan perubahan zaman 

Next : "Apa kabar Pekanbaru?"



Prospek Bisnis UMKM Tak Pernah Mati Saat Ramadhan

Sumber : Pexels

Prospek bisnis makanan di bulan Ramadhan selalu menjanjikan. Sekiranya pemerintah setempat memberlakukan jam buka warung makan pun permintaan konsumen selalu besar. Apalagi kalau pengusahanya paham marketing digital.

Contoh paling nyata adalah ketika saya mewawancarai pengusaha fraozen food pisang molen di salah satu kawasan Bekasi, Jawa Barat. Berbekal Google Bisnis Ku, dan beberapa aplikasi e-commerce, permintaan pelanggan justru meningkat di awal-awal pandemi hadir.

Akibat wabah Covid-19, rangorang dipaksa beraktivitas di rumah. Mau tak mau mereka buka aplikasi digital untuk membeli barang kebutuhan serta makanan kesukaan. Permintaan makin meningkat ketika Ramadhan datang. Bahan mentah yang dipersiapkan hingga lebaran habis di awal puasa. Begitu akunya.


Geliat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) selalu menampakkan wujudnya di bulan Ramadhan. Ada sepercik kebahagiaan hadir meskipun kekhawatiran akan wabah melanda. Di lingkungan rumah, tetangga saling memberikan perhatian. Jika kesulitan sesama mereka saling memberi dukungan. Sedekah makin marak. Jika lapar ya tinggal cari kudapan yang dijual tetangga terdekat. Hal itu dikarenakan orientasi pemeluknya di dalam mencari sebanyak-banyaknya pahala saat Ramadhan.

Dokpri

Prospek bisnis lainnya adalah penyediaan kurma. Buah yang hanya tumbuh di kawasan timur tengah itu menjadi incaran di bulan puasa.

Permintaan kurma pada puasa tahun lalu mulai meningkat di sekitar awal Ramadhan. Pada tahun ini, saat pandemi masih melanda, toko Herbal Gayo justru mendapat pesanan kurma mulai di awal-awal bulan.

Secara rerata, permintaan kurma pada tahun lalu dikisaran 0,5 hingga 1 Kilogram per hari. Hal ini seperti apa yang diberitakan media online Republika melalui wawancara dengan beberapa pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Melihat perkembangan yang dirasakan pada tahun ini, toko Herbal Gayo yakin prospek bisnis kurma mengalami peningkatan. Transaksi terakhir yang berhasil tercapai adalah pengantaran kurma ajwa premium menggunakan JNE ke Lippo Karawaci, Tengerang. 

Pengiriman via JNE. Dokpri

Pelanggan Herbal Gayo berdomisili Lippo Karawaci tersebut sampai mengirimkan dokumentasi anaknya yang menerima boks kurma ajwa. Ia sangat bahagia ketika anaknya itu suka dengan kurma yang juga menjadi favorit Nabi Muhammad SAW.

Dalam satu riwayat hadits Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW memberikan jaminan bagi sesiapa yang mengonsumsi kurma ajwa.

"Barang siapa mengonsumsi 7 (tujuh) butir kurma ajwa di pagi hari, maka di hari itu ia tidak akan terkena gangguan sihir dan racun."

Pelanggan ini pernah menyicipi kurma ajwa saat berada di Kota Mekkah, Saudi Arabia. Tekstur buahnya diakui memiliki khas tersendiri dibandingkan jenis kurma lainnya. Begitu juga rasa manisnya. Setelah berhasil membelinya kali ini, nostalgia sang pelanggan kembali hadir kala menikmati kurma ajwa bersama keluarga.

Incaran publik atas kurma di bulan Ramadhan memang tidak terlepas dari anjuran Rasul SAW. Disamping khasiat yang dimiliki kurma, Nabi Muhammad menganjurkan pengikutnya minimal berbuka dengan buah kurma.

"Jika salah seorang dari kalian berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma kering, karena hal itu mengandung keberkahan. Jika tidak ada, maka berbukalah dengan air, karena air itu mensucikan." (HR. at Tirmidzi)

Dokumentasi pelanggan Herbal Gayo domisili Lippo Karawaci. Dokpri

Distributor kurma ajwa premium yang menjadi langganan toko Herbal Gayo sendiri mengakui bahwa jumlah pemesanan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Pandemi memang belum kunjung hilang, namun penjualan kurma miliknya mengalami perkembangan signifikan.

Toko Herbal Gayo ikut merasakan senang atas perkembangan positif ini. Artinya, mengiklankan komoditas kurma semenjak dari 94 hari sebelum Ramadhan 1442 H tiba bukanlah upaya sia-sia. Selanjutnya, Herbal Gayo memiliki kesempatan melayani permintaan kurma jenis serupa ke kota Pekanbaru, Riau, sebanyak 10 Kilogram.

Aamiien, semoga berkah dan lancar.

Jangan Resign Kerja Saat Memulai Usaha Mikro-Kecil. Ini Alasannya!

Usaha mikro-kecil penting dibangun ketika kita masih berstatus pegawai di lembaga, instansi, atau perusahaan lain. Dagangan kita tersebut dapat membantu keuangan keluarga berputar sehingga mengkapitalisasi pendapatan.

Pernah suatu saat saya hendak fokus berwirausaha dengan meninggalkan pekerjaan. Hal ini menjadi perhatian teman-teman kerja saat itu. Mereka pun memberikan saran yang sangat penting, bahwa meninggalkan sumber nafkah utama dengan menjadi wirausaha justru merupakan tindakan blunder yang justru dapat mematikan usaha itu sendiri.

(Ilustrasi) Kondisi resign saat baru memulai usaha.

Hal itu saya sadari justru ketika masa pandemi datang. Saya menjadi bagian dari program pengurangan karyawan. Mau tidak mau, usaha yang baru sebulan saya bangun itu menjadi tumpuan hidup.

Ketika saya masih mendapat gaji bulanan, saya dapat mengatur keuangan antara kebutuhan keluarga dengan kebutuhan usaha. Tapi semenjak kehilangan pekerjaan, kondisi keuangan saya pincang.

Maka benarlah saran teman kerja saya itu. Sekiranya saya terburu-buru keluar kerjaan, hasil mengenaskan akan saya telan. Saya kemudian mendapat kompensasi dari pihak lembaga tempat saya bekerja. Saya mendapatkan dua bulan gaji plus bonus tahunan. Dengan modal tersebut, saya masih bisa bertahan menjalani usaha retail produk herbal.

Herbal Gayo, nama usaha mikro-kecil saya itu belum memiliki pelanggan tetap saat itu. Usahanya dibidang kesehatan berbahan herbal dan alami. Saat pandemi, banyak orang mencari produk tersebut untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Di lain pihak, toko saya itu dapat beroperasi justru di kala banyak usaha dipaksa tutup untuk menekan terjadinya penularan secara masif Covid-19. Hal ini dikarenakan Herbal Gayo adalah usaha yang diperbolehkan berjalan untuk memudahkan masyarakat mengakses obat-obatan.

Herbal Gayo adalah toko herbal yang berjalan semenjak 4 (empat) tahun lalu. Teman saya yang menjalaninya. Di tahun 2020 ia hendak kembali ke kampung halaman. Maka saya mengambil alih bisnisannya tersebut.

Toko Herbal Gayo (Dokpri)

Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pendapatan Herbal Gayo mengalami penurunan di masa pandemi. Namun kondisi keuangannya stabil karena kebutuhan masyarakat atas kesehatan mereka.

Menjaga kondisi keuangan toko sangat penting karena berdampak langsung kepada keuangan keluarga. Saya butuh sebuah pencerahan terkait mengelola keuangan secara bijak. Maka saya mengikuti kegiatan acara webinar ‘Ngopi Bareng Bang Amar’ yang diselenggarakan oleh Tunaiku-Amar Bank (20/3) lalu.

Program edukasi yang juga bagian dari Tanggung Jawab Sosial atau CSR perusahaan ini merupakan forum untuk berbagi pengetahuan dan wawasan tentang berbagai topik yang relevan dengan literasi keuangan kepada komunitas ataupun para pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Adalah Aidil Akbar Madjid yang menjadi narasumber. Beliau merupakan perencana keuangan senior yang memperkuat saran dari teman-teman saya. Salah satunya adalah memisahkan antara keuangan keluarga dengan keuangan usaha.

Di dalam keuangan keluarga terdapat aspek-aspek seperti pemenuhan keinginan, kebutuhan hidup, menabung, dan berinvenstasi. Oleh karenanya, keuangan keluarga berorientasi kepada pengeluaran.

Sedangkan keuangan usaha memiliki aspek penentuan harga jual barang, pembayaran cicilan, menentukan biaya, dan pengaturan cash flow. Oleh karenanya, bisnis kita berorientasi kepada kapitalisasi pendapatan.

Rumus Mengatut Keuangan Bulanan by Aidil Akbar Madjid

Meski usaha saya masih dalam level mikro-kecil, menciptakan kepercayaan konsumen, pembelian berkelanjutan, hingga mendapatkan pelanggan tetap adalah keharusan. Namun lagi-lagi, bahwa rencana itu perlu realisasi. Dan, semua itu butuh modal uang yang dikelola secara hati-hati.

Secara umum, Aidil Akbar Madjid berpendapat bahwa literasi keuangan di masyarakat Indonesia secara keseluruhan masih harus terus ditingkatkan. “Masyarakat Indonesia membutuhkan literasi keuangan agar mereka bisa merencanakan keuangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Untuk itu, masyarakat perlu terus diberikan pengetahuan yang mencukupi mengenai berbagai hal yang terkait dengan masalah keuangan, termasuk pengenalan mengenai lembaga jasa keuangan, apa saja produk dan jasa keuangan, fitur-fitur yang melekat pada produk dan jasa keuangan, manfaat dan risiko dari produk dan jasa keuangan,” kata Perencana Keuangan Senior itu.

Bersumber dari sana kemudian saya berpikir bahwa modal tambahan adalah sesuatu yang pasti saya temui. Hal yang tidak dapat terhindarkan oleh pelaku usaha mikro seperti saya.

Mulai dari sekarang saya putuskan wajib memiliki referensi lembaga keuangan atau sumber modal lainnya yang dapat dipercaya. Ini keharusan. Penting kiranya mengantisipasi usaha saya berada di ambang krisis dengan memiliki informasi dan relasi yang kuat dengan lembaga-lembaga tersebut.

Pada sesi webinar berikutnya presentasi dibacakan oleh Coordinator Referral  Program Tunaiku - Amar Bank, Ghaida Nuris Tsara. Menariknya adalah di saat lembaga-lembaga keuangan mencari peminjam dalam jumlah besar, Amar Bank memberikan kesempatan bagi pelaku usaha mikro-kecil mengakses bantuan modal.

“Amar Bank hadir untuk memberikan berbagai solusi layanan keuangan yang dibutuhkan masyarakat dalam mengatasi permasalahan keuangan. Untuk itu, selain terus berinovasi dalam meningkatkan layanan perbankan digital yang cerdas (intelligent) serta memperkenalkan produk dan layanan baru yang menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia sehingga dapat membantu mengubah hidup mereka menjadi lebih baik, Amar Bank juga terus mendorong agar masyarakat agar melek keuangan melalui berbagai kegiatan edukatif tentang literasi keuangan sehingga komitmen kami tersebut dapat terwujud,” jelasnya 

Melalui platform pinjaman online “Tunaiku”, PT. Bank Amar Indonesia Tbk, memberikan solusi finansial bagi masyarakat yang kurang mendapatkan layanan atau belum mendapatkan layanan sama sekali dari lembaga keuangan formal.

Prasyarat Peminjaman "Tunaiku" by Amar Bank

Jumlah pinjaman yang ditawarkan mereka mulai dari 2 juta hingga 20 juta rupiah dengan jangka waktu hingga 20 bulan masa pengembalian. Pinjaman ini pun dijamin tanpa agunan atau jaminan. Cukup menggunakan KTP atau identitas lainnya, pengajuan akan diproses.

Sebagai bentuk legalitas, “Tunaiku” terdaftar di lembaga penjamin OJK. Mereka juga mengklaim telah membantu hingga lebih dari 150 ribu customer. Total pinjaman produktif yang telah digelontorkan Amar Bank mencapai hingga 4,7 trilyun rupiah.

Sejauh ini, layanan keuangan digital "Tunaiku" telah diunduh oleh hampir 5 juta pengguna sejak pertama kali diluncurkan tahun 2014 dan telah memberikan manfaat kepada lebih dari 400 ribu masyarakat di Indonesia,

Dengan demikian, Amar Bank melalui “Tunaiku” berupaya menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan keuangan nasabah, terutama di tengah masa pandemi.

Nonton “Tenet” Tanpa Overthinking, Ini Caranya!

 Nonton film “Tenet” sambil bawa makanan banyak-banyak ke dalam studio biar asyik? Percayalah kawan, itu tidak akan berhasil.

 “Tenet” adalah film ber-genre science-fiction tingkat tinggi. Penonton yang dua bangku jaraknya dari saya aja gak bisa habiskan makanannya karena (mungkin) bingung dengan alur ceritanya.

Poster "Tenet" Sumber: Dove.org

Saya sendiri awalnya tidak punya ekspektasi apa-apa saat hendak memilih nonton “Tenet”. Para pengulas sebelumnya menilai film ini sedemikian canggih, sains teknologi tingkat tinggi. Sedangkan saya tipe penonton, yah meski dibilang tidak bodoh-bodoh amat, jujur tidak suka dengan matematika dan fisika. Ini tidak perlu validasi. Tapi saya bangga, karena berani menonton karya yang dibintangi John David Washington dan Robert Pattinson ini.

Oleh karenanya, saya memesan kursi di barisan “C” agak ke tengah di dalam studio 4 sebuah bioskop. Sembari menenangkan diri akan kemungkinan munculnya aksi tak terduga – karena film ini terulas dengan canggih – saya mulai menyiapkan catatan kecil agar tidak kehilangan adegan yang menjadi benang merah cerita.

Sinopsis : Tempo Cepat

Adegan dimulai dengan suasana di sebuah bangunan Opera Nasional Ukraina. Tidak ada dialog, tidak ada basa-basi. Semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sibuk mencari kursi, ada sekelompok pemain orkestra yang melakukan pemanasan, ada beberapa penonton VVIP yang bersiap menyaksikan di balik ruangan berkaca. Dengungan alat musik menjadi pengantar singkat film.

Seiring terangkatnya tongkat dirigen orkestra, sekelompok teroris menyergap dari balik panggung. Sekejap, suasana histeris. Detik berikutnya, kepolisian setempat yang entah darimana datangnya telah siap dengan penyergapan tersebut, dan memanggil orang yang disebutnya “Sang Amerika” untuk memimpin aksi kontra-teroris.

Detik selanjutnya, gas penenang keluar dari sudut-sudut ventilasi gedung.  Para penonton dan pemain orkestra tertidur dan perseteruan tak terelakkan terjadi antara polisi dan kelompok teroris. Baku tembak terjadi untuk menguasai salah seorang VVIP di dalam ruangan berkaca. Selain itu, menyelamatkan penonton yang tertidur dari bom waktu menjadi misi tambahan.

Sang Amerika yang memimpin operasi kontra-teroris sempat mengalami kejadian ganjil. Saat hampir terbunuh akibat fokus membuang bom-bom yang terpasang di kaki kursi penonton, seseorang melindunginya dengan cara yang aneh.

Sebuah peluru ditarik dari tubuh teroris masuk kembali ke selongsong pistol. Seperti proses rewind. Kejadian itu menyelamatkan dirinya di dalam gedung opera, selanjutnya menjadi pengembangan cerita -- yang dikatakan para pengulas film sebagai sains tingkat tinggi.

Resume Nonton “Tenet”

Saya jarang memiliki semangat menonton sebuah film dari detik pertama hingga akhir. Tiap adegan Tenet memilliki tempo yang cepat. Seluruh detik adegannya adalah “daging”. Tidak ada celah untuk mengalihkan perhatian dari layar bioskop, atau penonton akan tersesat dengan jalan ceritanya.

Christopher Nolan memang sutradara cerdas. Mungkin karena itu banyak karyanya mengangkat sains, seperti yang satu ini. Filmnya fiksi namun memperkenalkan teknologi inversi dengan baik. Setidaknya, penonton seperti saya tahu secara definisi bahwa teknologi inversi adalah teknologi yang dapat membalikkan objek entropi.

Cerdas banget, bukan?

Saya cari kata kunci “teknologi inversi” di mesin pencaharian berbahasa Indonesia, tapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Saya ketik “objek entropi”, ya Tuhan definisinya bikin pusing kepala.

Dipikir secara sekilas, benang merah film ini terletak pada mengubah hasil masa depan dengan masuk ke masa lalu dan mengintervesi kejadiannya. Di film ini, seakan-akan hal itu bisa terjadi.

Menonton Tenet dengan tenang dan tidak terlalu serius menjauhkan saya dari overthinking. Definisi teknologi inversi dan adegan peraganya yang begitu rumit malah membuat saya terhibur. Apalagi akting para pemerannya. To be honest, akting John David Washington, Robert Pattinson, dan Elizabeth Debicki adalah yang terbaik. Begitu juga Kenneth Branaugh sebagai antagonis, the best.

Sepertinya gak perlu IQ tinggi nonton “Tenet”. Saya yakin Christopher Nolan hanya berniat menghibur penonton dengan caranya yang khas. Dan, ia berhasil. Sedangkan saya berhasil menonton karyanya dengan tidak terlalu serius mencernanya.

Tulisan ini pengembangan dari artikel yang terpublikasi di Kompasiana sebelumnya.


Trailer





Popular Posts