KEMATANGAN PUBLIKASI ZISWAF DI 25 TAHUN DOMPET DHUAFA

Zakat itu baik. Wakaf pun baik. Begitu juga infaq dan shodaqoh, baik. Yang tidak baik hanyalah perilaku malas mempublikasikannya.

Era komunikasi di dunia ini belumlah benar-benar selesai meski dunia industri mengalami revolusinya yang ke-4. Justru, maraknya digitalisasi di banyak sektor menjadikan komunikasi sedemikian sebat. Keberlimpahan informasi pun berlipat-lipat.

Kondisi tersebut membawa berkah bagi sebagian orang. Namun, kemajuan teknologi membawa perihal negatif di tengah-tengah masyarakat: hoaks dan kebencian. Akibat perilaku tersebut, banyak masyarakat yang terpengaruh dan hal mengenai "do and don't" pun makin melebar. Salah satunya tentang ibadah dalam agama (perihal ini pernah saya angkat di artikel sebelumnya).

Meski ibadah dalam agama menjadi sedemikian privat bukan berarti kaum muslimin mesti kehilangan gairah menyebarluaskan kebaikan. Bahwa, zakat, infaq, shodaqoh, dan wakaf (disingkat: Ziswaf) adalah bagian dari kebaikan; inti dari keberkahan ekonomi masyarakat. Hingga hoaks dan kebencian dapat diredam sedemikian rupa karena Ziswaf ini terus-menerus digaungkan, dipublikasikan ke tengah-tengah masyarakat Indonesia yang makin terpolarisasi.

Contoh publikasi Ziswaf yang cukup matang adalah "Ramadhan Spesial di 25 Tahun Membentang Kebaikan" milik lembaga filantropi Dompet Dhuafa.
Dokpri

25 Tahun Membentang Kebaikan

"Menginjak usia yang ke-25 tahun, pada Ramadhan kali ini, Dompet Dhuafa ingin memberikan informasi yang lebih luas pada masyarakat di segala dinamika, situasi dan pekerjaan lembaga yang telah bergulir untuk masyarakat." Demikian sambutan Bambang Suherman selaku Direktur Mobilizasi ZIS.

Faktanya memang Dompet Dhuafa ini telah 25 tahun lamanya menggerakkan dan mengelola dana Ziswaf masyarakat Indonesia ini ke tingkat yang lebih profesional.

Jika dikalkulasikan dengan tanggal kelahirannya, Ramadhan tahun ini dimanfaatkan Dompet Dhuafa tidak saja untuk memperkenalkan dirinya mereka, tetapi juga menggerakkan masyarakat Islam seluruh dunia untuk menggulirkan kebaikan melalui zakat, infaq, sedekah, dan wakaf.
Dokpri

"Adanya perubahan seiring intervensi bersama masyarakat yang berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa, banyak perluasan aktivitas dan isu-isu baru tentang kemiskinan maupun kemanusiaan. Hal tersebut juga kami jadikan sebagai bukti semakin matangnya aspek manajemen kelembagaan," tambah Bambang Suherman.

Untuk itulah hadir tagar  #25tahunmembentangkebaikan sebagai suatu gerakan sosial. Diharapkan, melalui gerakan tersebut munculnya donatur-donatur baru dan peran serta mereka yang makin aktif dalam membangun kesejahteraan masyarakat miskin dan dhuafa di seluruh Indonesia maupun belahan dunia.

Tantangan Mengelola Dana Ziswaf

25 tahun bukanlah angka yang dilalui dengan leha-leha. Penuh perjuangan, itulah fakta sebenarnya yang terucap oleh narasumber "Ramadhan Spesial" ala Dompet Dhuafa kemarin (8/5).

Pada dasarnya, para relawan Dompet Dhuafa adalah tipikal manusia yang penuh tantangan dan suka jalan-jalan, tentunya. Namun, tanggung jawab mereka sangat besar. Dana titipan umat berada dipundaknya untuk disalurkan kepada yang berhak menerima.
Dokpri

Zakat sendiri adalah amanah dari Tuhan yang harus diperuntukkan langsung ke para mustahik. Sedangkan dana wakaf harus dikelola sedemikian rupa tanpa boleh mengalami kerugian. Oleh karena itu, Urip Budiarto, GM Resource Mobilitation Dompet Dhuafa mengakui bahwa bertemu para mustahik dan berkeliling Indonesia bukanlah hal yang berat. Mendistribusikan dana Ziswaf hingga menjadi program yang berhasil dikelola adalah tantangan sesungguhnya.

Pak Urip yang juga menjabat Ketua Ramadhan Dompet Dhuafa 1439 H pernah harus menempuh perjalanan kaki mengitari gunung menuju Mallawa, sebuah daerah penghasil kopi Kahayya. Untuk mencapai desa tersebut, Pak Urip mesti melewati Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang terkenal dengan pantainya, lalu terus naik ke arah gunung yang cuacanya sering diselimuti kabut.

Di desa itu, para penduduknya bercocok tanam tanaman kopi. Komoditas yang dihasilkannya bahkan diekspor hingga ke Jerman. Permasalahannya, nilai kopi Kahayya yang besar tersebut tidak berdampak langsung kepada kehidupan ekonomi warga Mallawa pada saat itu. Sistem pasar yang ada justru membuat mereka tetap hidup dalam keterbelakangan.

Kehadiran tim Dompet Dhuafa ke Mallawa dalam rangka memberikan pelatihan, bimbingan, dan dana bantuan ke petani sekitar. Tujuannya agar mereka dapat mengurus pasar komoditinya yang terkenal tersebut secara mandiri.

Penutup

Meski telah diisi berbagai macam properti, Graha Bima Sakti, Pancoran, tampak memiliki ruang yang cukup luas. Di sanalah publikasi kinerja selama 25 tahun Dompet Dhuafa itu mengabdi diadakan.

Di dekat pintu terdapat meja registrasi untuk para kru media dan blogger. Agak sedikit masuk ke ruangan, jajaran bangku tersusun rapi menghadap sebuah level yang telah dipasangi latar kain yang semarak.

Sisi kanan ruangan telah terisi dengan berbagai produk-produk unggulan lokal hasil bimbingan, dan bantuan dana umat melalui lembaga amil zakat Dompet Dhuafa. Terdapat berbagai komoditas produk di sana. Ada kopi, buah, beras merah, kurma, dan lain sebagainya.

Menyebrang ke kiri ruangan, berbagai sajian hidangan untuk santap siang telah tersedia. Di dekatnya, meja dan booth yang telah diisi dengan pernak-pernik bawaberkah.org menggoda rasa penasaran pengunjung.
Dokpri

Bawaberkah.org adalah sebuah layanan berkonsep crowdfunding yang baru saja di-launching tepat di kegiatan 25 Tahun Membentang Kebaikan tersebut. Kehadirannya akan makin memperkuat Dompet Dhuafa sebagai lembaga yang fokus pada penggalangan dana umat.

Untuk lebih lengkapnya mengenai profil Dompet Dhuafa dapat langsung berkunjung ke http://www.dompetdhuafa.org.

Komentar

Daruma mengatakan…
semakin banyak organisasi sosial yang ikut membantu mengurangi kemiskinan di indonesia. ternyata masih banyak orang yang peduli terhadap sesama. dengan kehadiran bawaberkah bersama dompet dhuafa semoga bisa membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat yang masih memerlukan bantuan kita.

Postingan Populer