Membaca Novel Senikmat Durian Montong (Resensi Buku A Game of Thrones).

Judul buku : A Game of Thrones (terjemahan bahasa Indonesia)
Penulis : George R.R. Martin
ISBN : 978-602-0900-29-2
Penerbit : Fantasious
Penerjemah : Barokah Ruziati
Desain Cover : Defy Lesmawan
Layout Isi : Yhogi Yhordan
Tanggal Terbit : Maret 2015
Harga : Rp 99.000,-
Tebal : 948 hlm

Ringkasan :
Sepulang dari urusan hukum, Eddard Stark, pemimpin wilayah utara-Winterfell, menemukan 6 bayi direwolf (sejenis serigala) di dekat bangkai induknya yang mati akibat tersedak serpihan tanduk rusa yang dimakannya. Lambang Klan keturunan Stark adalah direwolf, dan ini sebuah pertanda buruk.
Tidak lama berselang, iring-iringan Raja Robert Baratheon datang berkunjung ke Winterfell untuk meminta Eddard Stark menjabat sebagai Tangan Kanan Raja dan pindah ke King's Landing. Permohonan sahabat masa kecilnya dari Klan berlambang rusa jantan bermahkota-Baratheon itu dipenuhi Ned dengan berat hati. Ned menerima jabatan tersebut bukan karena gila jabatan, akan tetapi untuk menelusuri kematian Tangan Kanan Raja sebelumnya, Jon Arryn-sahabat Ned dan Robert, yang diduganya mati karena diracun. Namun, berawal dari misteri inilah seluruh intrik politik dan tragedi pembunuhan terjadi. 
Kerajaan diambang perpecahan dan perebutan kekuasaan.

***

Saat pertama kali menemukan novel A Game of Thrones di rak terbawah lemari paling pojok kanan salah satu toko buku terbesar di Indonesia itu, saya melihat warnanya yang terang semerah darah. Cover-nya didisain tidak seperti dalam benak saya saat mencarinya: dipenuhi warna-warna gelap dan gambar-gambar pasukan kerajaan sedang bertempur dalam kuasan cat minyak, seperti halnya buku novel The Lord of The Rings, atau Harry Potter. Tetapi disain cover-nya hanya terdiri dari dua warna persis seperti cover novel Mockingjay yang saya beli, hanya saja berhalaman 2 kali lebih tebal.

Pemilihan kertasnya juga sama persis dengan buku Mockingjay yang saya beli di salah satu kios bursa buku besment Mall Blok-M. Tidak salah kiranya buku ini dijual dengan harga relatif terjangkau padahal dijual di toko buku terbesar setaraf nasional. Setidaknya, buku ini dapat dijadikan model bagi para penerbit untuk menyediakan buku-buku dengan harga murah demi meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. 

Kalau tidak salah, jika dibeli secara online bisa mendapatkannya dengan harga di kisaran Rp 87.000,-. Sangat terjangkau.

Saya mengibaratkan membaca buku ini seperti memakan buah durian. Meski harganya terjangkau, namun dengan harga segitu hampir sama dengan membeli durian montong di supermarket. Jadi saat membuka satu per satu halamannya haruslah gentle, hati-hati, dan punya sedikit keberanian. Karena sedikit saja rusak, akan terasa menyakitkan seperti tertusuk duri-duri durian. Haha.

Di setiap bab buku A Game of Thrones kita akan menemukan mereka diberi judul sesuai nama-nama karakter. Ironisnya, tiap saya membeli durian juga saya beri nama yang berbeda pada buah-buah di dalamnya. Apakah ini sebuah kebetulan? 

Dari tiap babnya kemudian saya dapatkan sudut pandang yang khas dari tiap karakter dan bagaimana mereka mempelajari kondisi lingkungan dan keputusan yang harus mereka hadapi. Hanya saja saat membaca di tiap-tiap judul bab yang berbeda tersebut saya tidak menemukan judul Robb Stark di dalamnya. Padahal, sudut pandang Robb Stark juga menjadi penting karena karakter tersebut pantas menjadi salah satu karakter utama di dalamnya.

Alhasil, agar dapat memahami plot ceritanya kita harus menikmati bacaan novel A Game of Thrones dengan perlahan-lahan. Hal ini dikarenakan kita akan menemukan beban psikologis yang berbeda yang diemban oleh masing-masing karakter. Di dalamnya juga kita akan mendapatkan banyak quotes positif dan berguna, khususnya bagi mereka yang merasa memiliki beban yang besar akibat kekurang-percayaan diri fisik maupun status yang dimiliki masing-masing. 

Metode penerjemahannya pun saya nilai bagus. Melalui pemilihan kosakata dan rangkaian kalimatnya, saya dapat merasakan gaya penulisan aslinya dan mudah dimengerti. Meskipun pada bagian-bagian akhir bab terdapat sedikit kesalahan pengejaan, hal itu masih dapat ditolerir karena baiknya plot cerita perebutan tahta ini dibangun. 

Mungkin HBO membuat serial TV A Game of Thrones di luar sana, namun saya yakin mereka membuatnya tidak seperti ekspektasi saya saat membacanya. Pada akhirnya, saya semakin penasaran lanjutan dari novel A Game of Thrones ini.

Kesimpulannya, buku ini senikmat menikmati durian montong. Jika kalian mengerti maksud saya..hahaha

Komentar

Postingan Populer