MENJADIKAN TERAS KOJA TEMPAT BELAJAR DAN MENIKMATI KULINER LOKAL-MANCANEGARA

Besok ujian akhir kompetensi. Hari ini adalah hari terakhir mempersiapkan diri demi menunjukkan keahlian dasar 1 berbahasa Jepang kami di hadapan asesor.


Saya dapat melihat kekhawatiran dan kegalauan tergambar di tiap-tiap mata rekan sekelas; di tiap selipan kata dan canda mereka. Saya dapat merasakannya, karena saya juga mengalami hal serupa. 

"Sensi! Sensei, sibuk gak hari ini?" Tiba-tiba mulut ini inisiatif bertanya.

"Nggak. Ada apa Dhul-san?"

"Sore ini, sehabis kelas, saya bisa belajar privat sama Dedi-sensei, gak?"

Tidak dikira, permintaan saya langsung disambut oleh rekan-rekan pelatihan lainnya. Sebut saja, Dwi, Lia, dan Laela, berminat untuk belajar bersama secara privat dengan Dedi-sensei.

"Boleh aja. Maunya di mana?" Pertanyaan sensei kami ini membuat kami terdiam sejenak. 

Saya pun reflek merespon, "McD Artha Gading!"

"Di sana mah rame. Pasti berisik. Gak bakalan fokus belajarnya," Dwi urun mengingatkan.

"Iya, bang Dhul, gak bakalan fokus," Lia ikut mengompori tanpa memberikan solusi. Sedangkan Laela, dia hanya menatap kami lugu tanpa kata.

"Kalau saya sih, ikut aja kalian maunya di mana." Dedi-sensei berkata bijak.

Saya berpikir keras mencari tempat kuliner yang nyaman dan asik buat belajar, makan, sekaligus bercengkrama. Sempat pikiran ini menyerah mencari lokasi yang pas. Lalu, tiba-tiba, muncul di ingatan saya suatu lokasi yang biasa saya lewati kala menuju Pusat Pelatihan Kerja Daerah Jakarta Utara (PPKD Jakut).
Dokpri


Lokasi tersebut di penuhi atap-atap payung, di atas lahan yang tampak terbuka. Tempatnya biasa dilalui angkot APB 02; tampak strategis karena tepat berada di belakang Koja Trade Mall dan di seberang Masjid Islamic Center Jakarta Utara.

Namanya Teras Koja. Bingungnya saya, teman-teman sekelas tidak ada yang mengetaui sentra kuliner tersebut. Mungkin karena itulah, tempat tersebut tampak sepi dari luar.

Saya pun berusaha meyakinkan teman-teman untuk belajar privat di sana saja, berhubung tempatnya masih sedikitnya pengunjung; seakan belum dikenal baik oleh warga Jakarta Utara dan sekitarnya.

"Ya udah, di sana aja kalau memang kondusif buat belajar." Dwi menyetujui.

Tidak ada yang keberatan dengan usulan saya tersebut, kecuali gadis berkerudung abu-abu yang sedari tadi menatap kami tanpa berkomentar.

"Laela, jadi mau ikutan, gak?" Yang ditanya tersenyum dengan anggukan antusias. Yokatta.
Level Panggung Teras Koja. Dokpri


Pukul 3 sore, seluruh kelas PPKD serentak keluar. Beberapa dari mereka nongkrong sejenak di lorong-lorong lantai bercengkrama ringan. Saat saya keluar dari ruangan, Wahyu dari kelas Elektronika Komunikasi mencegat saya, "Abis ini ada acara gak, bang?"

"Ada. Kita mau bahas materi ujian kompetensi di Teras Koja. Ada apa, Yu?"

"Oh, nggak bang..Siapa aja yang ikut?" Tanyanya penasaran.

Saya mengetahui orang ini agak terobsesi dengan Laela. Saya pun sedikit menggodanya dengan tujuan ia dapat ikut bersama kami, biar ramai sekalian, "Oh, ada Laela tuh ikut. Terus sensei kami, Dwi, dan Lia. Mau gabung?"

"Boleh deh, bang. Gua siapin motor dulu ya."

Gotcha!

Setelah memenuhi hajat di kantor dinas ketenagakerjaan Jakarta Utara, kami pun belok kiri dari Simpang Lima Plumpang menuju Teras Koja.
Parkir Motor Teras Koja. Dokpri

Benar saja, Teras Koja kala sore itu sangat sepi. Kehadiran motor kami disambut dengan sigap oleh tukang parkir. Sebelum memasuki area dalam, saya sempatkan diri mengambil beberapa citra tampak luarnya.

Begitu memasuki area kuliner saya dapati susunan bangku-bangku di bawah tenda-tenda payung yang tersusun rapih dan sesuai tema warna serta coraknya. 

Jejeran bangku-bangku beserta meja kayu tersedia pula di seberang  sana, terpisahkan dari kami oleh dekor bercat putih dan beberapa washtafel. Di hadapannya, terdapat panggung berlevel rendah yang dipenuhi alat-alat musik. Area makan tersebut di tudungi kanopi berbahan stainless

Panggung itu tersedia monitor LCD yang terhubung langsung dengan DVD Player multi fungsi dan sound system yang cukup membahana. Menurut pengurus Teras Koja, para pengunjung dapat berkaraoke ria jika mau. Semua fasilitas di atas panggung dapat digunakan tanpa dikenai biaya sedikitpun. Amazing!
Nyamannya spot ini. Dokpri


Kami memilih tempat duduk yang beratapkan payung di ujung terdalam. Mejanya agak lebar dengan sandaran kursi yang agak tinggi di bandingkan lainnya. 

Kami tumpahkan seluruh tas dan buku di atasnya. Saya lalu menyadari bahwa Wahyu tidak masuk ke dalam bersama-sama. Celingak-celinguk, saya mencari sesosok anak muda keturunan Yogya-Madura tersebut.

"Nyari apaan sih lu, bang?" Tanya Lia.

"Si Wahyu ke mana ya?"

"Tauk tuh, tadi masih di luar mainin HaPe." Jelas gadis lulusan SMA 110 itu.

Baru juga membuka modul pembelajaran, Dwi dan Lia tak sabar mencari makanan di Teras Koja ini. Alih-alih terganggu, saya malah ikutan penasaran dengan menu-menu yang tersedia di sini. Mata menuntun, kaki pun melangkah tanpa disuruh. 

Sentra kuliner itu dipenuhi kios-kios makanan dalam berbagai varian, bentuk, dan rasa. Di sisi kiri deretan kios tersedia berbagai makanan ringan, seperti : Pancong, Cilok, Batagor, dan berbagai makanan ringan lokal lainnya. Bahkan, di sana terdapat Topokki ala Korea Selatan, kentang goreng ala Perancis, cemilan ayam ala Taiwan, dll.

Di sisi kanan deretan kiosnya di kuasai oleh berbagai macam beverage dan cemilan yang terbuat dari buah-buahan. Sedangkan di sisi tengahnya terhidang berbagai macam makanan utama mulai dari yang berbahan nasi, tepung, dan sagu. Di sana juga tersedia menu-menu yang menggoda selera dengan harga yang relatif murah.
Es Krim Pancong. Dokpri


Dikarenakan masih kenyang, kami memesan dua piring Es Krim Pancong, selusin pisang cokelat, dan satu gelas es jus buah naga, dan satu botol es teh serta tiga botol minuman mineral.

Tidak sampai 5 menit, pesanan kami berdatangan di meja. Penampakannya benar-benar instagramable. Jadilah kami bergantian mengambil menu pesanan di atas meja dengan kamera HaPe masing-masing.
Jus Buah Naga. Dokpri


Di menit berikutnya, segerombolan orang mendekati kami. Semuanya laki-laki muda berlibido tinggi. Penampakannya seperti kami kenal: ternyata mereka adalah kawan-kawan Wahyu dari kelas Elektro. Suasana makin meriah dengan kehadiran mereka. Apalagi ada Daniel yang pandai memainkan beberapa alat musik seperti gitar, piano, dan saksofon.

"Niel, ayo dong perlihatkan kemampuan lu tu, di panggung!" Teriak Lia.

"Sabar-sabar..!" kilah pemuda asal Sanger itu. 

Sambil bercengkrama dengan kelima orang itu, saya iseng mencicipi pancong dengan gumpalan krim warna-warni di hadapan saya. Namun baru sepotong saja lidah ini menikmati, perut saya begah tak terkira. Saya tidak sanggup. 
Anak Elektro PPKD Jakut. Dokpri


Begah yang saya rasakan bukan karena apa-apa. Menu makan siang jam 12 tadi belum menguap sepenuhnya menjadi energi. Jadilah perut saya menolak pancong tersebut meskipun nikmat di lidah. 

Saya perlu pengalih perhatian dari makanan-makanan lezat ini. Maka, dari mulut pindah ke mata; pandangan saya arahkan ke dialog yang ada di dalam modul pembelajaran kami. Jadi lah kami kembali ke misi semula : belajar.

Tanpa terasa dua jam kami menulis dan tanya-jawab dengan sensei kami. Setiap kata tertulis di modul yang kami rasa kurang paham, kami tanyai. Setelah jawaban telah dipahami, kami memberinya notes agar tidak lupa. Hingga kemudian, suara azan Maghrib berkumandang dari arah Masjid Islamic Center.

"Bang, sholat berjamaah, yuk?" Wahyu mengajak kami.

"Emang di sini ada mushola-nya, Yu?" Tanya saya.

"Di lorong sana, ada San. Di jalan masuk samping kasir." James bantu menerangkan.


Di sudut sisi kiri Teras Koja berdiri dua orang. Di meja mereka terdapat satu set personal computer, mesin kasir elektronik dan perlengkapan administrasi. Tepat kepala saya menengok ke arah telunjuk James mengarah, gadis berseragam yang sama dengan para kasir itu keluar dari lorong sambil memperbaiki kerudungnya yang agak lembab tersentuh air wudhu.

"Yuk, bang?" Wahyu tampak terburu-buru; bukan apa. Hal itu dikarenakan dari sudut matanya tergambar rasa gugup akibat lirikan Laela kepadanya.

"Duluan aja. Masih ada yang mau gue tanyain ke sensei."

"Oh, ya udah. Gue duluan ya. Yuk, James." Mereka berdua pun segera meninggalkan meja kami.
"Eh, si Ayu ama Mia mau datang. Pasti gara-gara foto yang gue kirim di grup." Kata Lia sambil tertawa puas.

"Udah sampai mana, mereka?" Dwi bertanya.

"Ayu sama Mia sekarang di rumahnya Ayu. Bentar lagi mau ke sini. Katanya deket rumahnya ke Teras Koja." Gadis petakilan itu membeberkan isi percakapannya di Whatsapp.
Spot Romantis Teras Koja. Dokpri


"Kita sholat dulu yuk, Dhul-san." Dedi-sensei meminta persetujuan.

Tanpa bertanya ke saya pun Dedi-sensei sudah pasti masuk ke lorong itu karena sudah menjadi niatnya bertemu dengan Tuhan dalam sembahyang. Diingatkan seperti itu, saya melupakan sejenak aktivitas kami dan memasuki lorong.

Lorong di Teras Koja cukup lebar. Mushola terdapat di sisi kanan tembok. Sedangkan pintu kaca terpasang di sisi kiri tembok yang mengarah langsung ke parkiran mobil (tampaknya seperti itu).

Setelah anggota badan kami terbasuh wudhu, langkah kaki ini pun mengarah masuk ke mushola. Ruangannya begitu lebar, terfasilitasi air conditioner. Seluruh lantainya dilapisi karpet dan di temboknya terdapat pernak-pernik religi. Di bagian belakang mushola terdapat buku bacaan risalah Nabi untuk anak-anak. Lumayan nyaman untuk ukuran tempat kuliner UMKM.

Begitu banyak hal yang ingin saya tanyakan mengenai Teras Koja ini. Rasa penasaran membuat mata saya mencari-cari orang yang sekiranya dapat digali pertanyaan: manajer atau supervisor, begitu. Namun dikarena tidak ketemu, saya inisiatif bertanya ke para kasir.

"Teras Koja ini berdiri sekitar bulan November 2017, mas," seorang kasir memberikan pendahuluan. "Di bulan Desember-nya kita didatangi Pemda DKI untuk pendaftaran pajak daerah. Sekarang, Teras Koja ini resmi terdaftar sebagai usaha di lingkungan provinsi DKI Jakarta."

Sebenarnya, pertanyaan saya banyak yang tidak terjawab oleh para kasir itu. Seperti halnya, sejarah awalnya lahan ini terpakai hingga para peserta UKM itu berkumpul menjadikannya pusat kuliner di daerah Koja, Jakarta Utara. Tetapi saya maklumi karena tujuan utama saya ke sini memang untuk belajar menghadapi ujian kompetensi.

Sebelum balik ke meja, saya menyempatkan diri membaca surat edaran yang ditempel di kaca kasir. Isinya tentang legalitas operasional Teras Koja ini sebagai salah satu pusat jajanan di Jakarta Utara. Keputusan tersebut ditandatangani pada bulan Februari tahun 2018.

Sekitar pukul 7 sore level panggung pun mulai diisi oleh suara nyanyian dari para amatir menandakan Teras Koja akan segera ramai dikunjungi. Beberapa orang berpose di bagian-bagian yang tampak pas diabadikan. Ayu dan Mia juga telah sampai di lokasi kami berkumpul. 

Kondisi Teras Koja sudah tak lagi seperti di siang harinya. Pelajaran dari sensei kami pun kami rasa cukup. Satu per satu buku kami tutup dan isi kantong kami keluarkan untuk sesi kedua pencaharian menu makanan. Kami berharap keesokan harinya adalah kesuksesan kami menjalani ujian kompetensi berbahasa Jepang di PPKD Jakarta Utara.

Komentar

Irwin Andriyanto mengatakan…
Dikira teras kota, ternyata koja..

Mirip pujasera yah
Evi Indrawanto mengatakan…
Ah asik juga hangout bareng teman-teman di Teras Koja ini ya. Tak terlalu ramai, masih bisa belajar, dan makanannya untuk melancarkan diskusi, yahud
ikhsan keren mengatakan…
Thats rite!

Postingan Populer