3 HARI MENJELANG PUASA: MENIKMATI DEMO MASAK BERSAMA TUPPERWARE

Kehadiran saya di showroom Tupperware telat sekitar 30 menit. Kondisi saya dalam keadaan bingung karena sudah banyak rekan-rekan media dan blogger mengisi kursi yang disediakan. Ini juga pertama kalinya saya datang berkunjung ke showroom tersebut yang terletak di Lower Ground South Quarter building, Jakarta Selatan.

Saya mengambil kursi baris kedua paling pinggir di sisi kiri. Di atas saya menggantung kelereng-kelereng berwarna ungu. Bulatan kecil yang terbuat dari kaca itu terikat oleh benang tipis berwarna putih. Tampak berkilau dan imut.

Kegiatan utama Tupperware kala itu (14/5) berupa demo masak panganan ringan. Para chef telah siap dengan bahan baku dan perkakas plastiknya. Namun saya masih juga belum dapat fokus dengan kegiatan siang itu. Maka, saya pun kembali memperhatikan kelereng-kelerengg ungu yang menggantung di angkasa.

Ramadhan!!

Yup! Tiba-tiba saja, bulan Ramadhan, yang dalam tiga hari itu akan segera datang, mampir di pikiran ini. Saya baru menyadari bahwa di bawah gantungan kelereng ungu itu terdapat prakarya berwarna perak berkilauan. Saya sempat tak memperhatikan karya buatan tangan tersebut. Bentuknya bulan sabit yang menandakan bulan suci akan segera tiba.

Setelah saya memperhatikan sekeliling ruang showroom, Tupperware telah mendekornya dengan minimalis dan terlihat cantik. Manajemennya dengan cepat menyulap suasana ruangan dalam menyambut Ramadhan. Berbeda sekali dengan eksterior hampir sebagian besar gedung South Quarter yang biasa-biasa saja.

Setelah memahami seluruh kondisi di sekeliling saya, pikiran inipun bisa diajak fokus menyaksikan chef di atas dapur. Para chef itu dengan semangatnya menjelaskan satu per satu proses pembuatan kue bolu kukus.

Langkah awal yang diambil oleh salah satu chef adalah mencacah gula merah menggunakan Turbo Copper buatan Tupperware. Perkakas tersebut memang difungsikan sebagai pencacah bumbu dapur. Bentuknya seperti mangkuk plastik dengan penutup sekeras kerang. Inovasi berbahan plastik kualitas prima itu digunakan tanpa bantuan listrik, namun efektif digunakan tangan karena strukturnya yang efisien mencacah gula merah tersebut.
Sumber : Tupperware

Proses selanjutnya adalah air dimasak bersama gula merah hingga mendidih dan gula pun larut. Di saat yang hampir bersamaan, chef yang satunya lagi mempraktikkan pengocokan telur dan adonan kue menggunakan Speedy Chef.

Speedy Chef adalah mixer tangan tanpa menggunakan tenaga listrik. Perkakas ini sangat ramah lingkungan dan energi. Hal ini dikarenakan Speedy Chef dapat mengaduk adonan kue dengan cepat. Kecepatannya bekerja setara 27 kali putaran mixer listrik jika dibandingkan satu kali ayunannya. Bentuknya compact dan tidak berisik saat digunakan. Benar-benar praktis.
Sumber: Tupperware

Setelah semua bahan baku telur, tepung terigu, soda kue, minyak goreng dan air gula berkumpul menjadi satu adonan, para chef memasukkan meises, lalu diaduk hingga rata.

Adonan pun tampak paripurna untuk dikukus. Namun sebelumnya, adonan tersebut di masukkan ke dalam silicon cup hingga memenuhi 3/4 tinggi cetakan.

Setelah semua cetakan selesai terisi dengan adonan, silicon cup itu dimasukkan ke dalam wajan untuk dikukus di atas perapian. Hebatnya adalah, silicon cup tersebut tidak ada satupun yang lumer akibat tingginya suhu wajan.

Menunggu adonan bolu dikukus di atas wajan memang agak lama. Untuk itu panitia menyediakan bolu kukus yang telah selesai dibuat dengan tahapan yang sama sebelumnya. Begitu dibagikan, lidah ini serasa menikmati bantalan empuk yang manis dan enak. Acara pertama demo masak telah sukses terlaksana.
Sumber : Tupperware

Di kegiatan berikutnya, demo masak kue bola cokelat dikerjakan. Tidak lupa, para chef dibantu dengan panitia membagi-bagikan kepada beberapa dari kami yang beruntung mendapatkan produk Tupperware. Sangat meriah.

Acara pun berakhir setelahnya, setelah sales Tupperware mengumumkan kepada juru tulis media dan blogger mengenai keanggotaan brand Tupperware. Pria itu menjamin akan kemudahan bagi para member apabila ikut serta di dalam keanggotaannya. Di antaranya adalah mendapatkan paket produk seharga Rp 600.000,-.

Kegiatan demo masak saat itu cukup menarik. Saya belum pernah merasakan kehebohan di acara sejenis. Ini pengalaman pertama saya yang dibantu oleh AMI (Asosiasi Media Online Indonesia).

AMI sendiri hadir karena kekhawatiran maraknya hoaks di internet. Berita hoaks ini begitu menggerogoti persatuan dan kesatuan bangsa dewasa ini.

Para pendiri Asosiasi Media Online Indonesia juga melihat kurangnya regulasi mengenai media online yang dapat membantu mendisiplinkan masyarakat. Oleh karena itulah mereka bersama-sama mendeklarasikan AMI pada 22 Februari 2018 di Takes Mansion & Hotel, Kebon Sirih Jakarta Pusat.

Tujuannya didirikan AMI adalah sebagai wadah menampung aspirasi para juru tulis media online dan blogger, penjembatan kepentingan mereka dengan pemerintah, dan pusat edukasi masyarakat berkarya bersama platform media online.

Komentar

Postingan Populer