TADARUSAN BAPER

Masa kecil saya dengan Al Qur'an tidaklah terlalu dekat. Saya lebih suka main dengan teman-teman, ketimbang mengeja satu persatu tulisan yang bergelombang bagaikan ombak di pantai itu.

Saya punya guru ngaji. Ia tinggal di suatu 'bedeng', tempat di mana becaknya terparkir dan ditutupi dengan kain guna menghindari pengawasan satpol PP. Kalau sudah demikian, acara pengajiannya batal.

Pernah juga, kakak saya yang langsung mengawasi kemampuan membaca huruf Al Qur'an. Keluarga saya religius, memang. Saat dibawakan kitab keluaran kementerian agama, saya justru menolaknya. Sambil merengek, saya meminta kitab yang di bawah tulisan arabnya tertera huruf 'ajam (tulisan latin berbahasa Arab). Saat mengaji, saya membaca huruf 'Ajam tersebut sambil menggerakkan lidi di atas tulisan Arabnya; seolah-olah tampak pandai mengaji. Licik ya..haha.

Hingga masuk SMP kedekatan saya dengan Al Qur'an tidak pernah berubah; kabur-kaburan. Menjelang naik kelas 3 SMP, di bulan Ramadhan yang kesekian kalinya dalam hidup saya, saya mengalami mimpi tentang kiamat.

Saya bangun tidur dengan kalap, nafas berkejaran, jantung berdegup kencang; saya merasa sangat berdosa. Seketika saya melakukan pengakuan dosa kepada kakak dan ibu, lalu memulai hubungan baru dengan kitabnya umat Islam tersebut.

Bulan Ramadhan, Bulannya Al Qur'an
Tante sayalah yang lebih banyak mengajar Al Qur'an kala itu. Dia juga yang mengenalkan saya dengan kelompok tadarusan di kisaran tempat tinggal keluarga kami. Melalui interaksi bersama mereka saya memahami bahwa tadarusan itu ada memiliki tahap:

Pertama, memperbaiki bacaan huruf Arab bersama-sama.

Kedua, menghapal ayat-ayat pendek.

Ketiga, mentadabburi arti dan makna dari ayat-ayat yang dibaca.

Jadi, tidak langsung ke materi tingkat lanjut. Saya musti memperbaiki bacaan dengan cara berkelompok terlebih dahulu.

Metode awal ini cukup ampuh untuk berkenalan dengan Kalam Ilahi sebelum beralih ke tingkat lanjut. Sayangnya, saya jadi suka membacanya sendiri di kamar. Saat itu lebih khusyuk aja; tak ada yg meralat sambil cekikikan. Lebih nyaman, meski ada kekurangannya:

Pada suatu malam, bacaan saya memasuki juz 27. Di juz tersebut terdapat surat Ar Rahman. Di awal-awal surat saya menemukan kalimat, "fabiayyi aalaa i-robbikumaa tukadjdjibaan."

Lalu selang beberapa ayat berikutnya, saya temukan lagi itu kalimat, dan terus begitu. Sampai-sampai saya ketawa sendiri saat membacanya. "Kok ada ya, surat kalimatnya berulang-ulang kayak gitu?" Dalam hati saya merasa heran bercampur lucu.

Keganjalan yang saya rasakan tidak saya bagi bersama teman-teman tadarusan. Lalu saya pun masuk sekolah kejuruan dan berkenalan dengan orang-orang baru. Di kala itu, saya ikut bergabung kegiatan ekstrakurikuler bernama Rohis (Rohani Islam).

Di Rohis juga ada program tadarusan, apalagi kalau memasuki Ramadhan. Wuih, ramai sekali! Hal ini dikarenakan pihak sekolah mendukung penuh muridnya menyibukkan diri di sekolah ketimbang bebas berkeliaran di luar melakukan aksi anarkis dengan murid sekolah lain. Alias, tawuran.

Di suatu momen yang saya lupa kapan tepatnya terjadi, lingkaran pengajian kami membaca surat Ar Rahman, juz 27. Begitu kalimat "fabiayyi aalaa i-robbikumaa tukadjdjibaan" dibaca oleh salah seorang dari mereka, ia menangis tersedu-sedu. Saya pun bingung?

Kondisi seperti menular: beberapa dari kami ada yang ikut menangis.. Saya dan kelompok "tidak menangis" merasa keheranan. Jelas ini kejadian serius hingga ada air mata yang tumpah. "Tapi apa?" Hati saya bertanya-tanya.

Selesai tadarusan, D berkata, "surat Ar Rahman selalu bikin ane nangis."

"Soalnya, artinya memang bikin kita jadi sedih." Pungkas Y.

T pun ikut-ikutan nimbrung, "pokoknya siap-siap aja dah, tisu kalau udah masuk ini surat," ungkapnya dengan sedikit dialek Betawi.

Khawatir tengsin pernah menertawakan isi surat Ar Rahman, mulut saya tertutup rapat; tak mau ikut nimbrung. Tapi, diam-diam, tersimpan juga rasa penasaran yang besar di batok kepala ini.

Malamnya, saya realisasikan niat saya membaca terjemahan Ar Rahman. Saya buka kitab terjemahan keluaran kementerian agama Republik Indonesia, lalu mencari halaman yang memuat judul surah "Sang Maha Penyayang", dan membaca teks berbahasa Indonesianya.

"Fabiayyi aalaa i-robbikumaa tukadjdjibaan."

Artinya, "maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?"

Jleb!!!

Lebih dari 70 kali kalimat itu diulang dalam satu surat. Tiap kali membacanya, saya teringat satu per satu kesalahan dan dosa saya. Di saat yang sama, saya juga mengingat seluruh fasilitas dari Sang Pencipta yang saya nikmati selama hidup.

Saya menyadari diri ini penuh dosa. Tapi Tuhan masih saja terus memberikan limpahan nikmatnya hidup di dunia. Tidakkah Ia benar-benar penyayang? Mana rasa syukur saya kepada-Nya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghardik akal sehat saya.

Berani-beraninya saya menertawakan ayat-ayat-Nya. Berani-beraninya saya durhaka kepada orang tua. Berani-beraninya saya meninggalkan sholat tanpa sebab. Berani-beraninya saya bermaksiat kepada-Nya. Berani-beraninya...

Tapi Tuhan masih terus memberikan kenikmatan kepada saya. Saya akui itu. "Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?!" Petikan ayat itu terus menggema di pikiran ini.

Tiba-tiba saja, tenggorokan saya tercekat; sesenggukan menangisi kebodohan saya selama ini.
Di kamar itu tak ada orang selain saya. Di kamar itu hanya dipenuhi derai air mata. Di kamar itu saya termenung begitu lama.

#29haringeblog
#ceritaramadan

Komentar

fenni bungsu mengatakan…
Karena diulang terus kalimat itu, jadi bahan perenungan buat manusia yang kerap salah dan lalai.
ikhsan keren mengatakan…
#jempol#

Postingan Populer