RENCANA ELIMINASI HEPATITIS B HINGGA TAHUN 2030

Penyakit Hepatitis disebut juga sebagai silent killer.
Sumber: immunizationinfo.com

Bagaimana tidak; di sebelah saya duduk seorang ibu yang memiliki keponakan laki-laki. Keponakannya itu merupakan anak yang aktif. Kesehariannya adalah bermain bola sepulang sekolah.

Hingga di usianya yang hampir beranjak remaja, anak tersebut kolaps; jatuh tiba-tiba tak sadarkan diri. Meski sudah dibawa ke rumah sakit terdekat, keponakannya tersebut menghembuskan nafas terakhir dalam waktu kurang dari 10 jam penanganan.

Mengerikan.

Kisah tersebut disampaikan pada forum penyuluhan " Deteksi Dini Hepatitis: Selamatkan Generasi Penerus" yang diadakan di Ruang Naranta, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat,Gedung Dr. Adhyatma, Kementerian Kesehatan R.I (27/7).


Penuturan ibu di sebelah saya itu bahwa keponakan lelaki-nya mengidap kanker hati. Padahal sebelumnya, anak tersebut tidak memiliki gejala sakit apapun.

Dr. Windra Waworuntu, M.Kes membenarkan diagnosa dokter yang menanganinya. Beliau menjabat sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung di lingkungan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes R.I.

Menurut beliau, kanker hati yang diderita keponakan sang ibu tersebut berawal dari virus Hepatitis B yang dibawa dari orang tua kandungnya. 

Pada dasarnya, tidak ada obat yang mampu memusnahkan virus Hepatitis B ini. Kalaupun ada, hanya mampu meredakannya hingga tidak lagi terlihat di aliran darah sang penderita. Karena,virus Hepatitis B masih tersimpan di inti sel darah mereka.

Artinya bahwa, Hepatitis B mampu merusak hingga ke inti sel tubuh manusia; yang mana tidak ada obat yang bisa menjangkau inti sel tersebut.
Sumber: Hepatitisaustralia.com

Cara penularan penyakit Hepatitis bisa melalui kotoran, mulut, hingga kontak cairan tubuh. Khusus Hepatitis B, penyakit ini menular hanya melalui cairan tubuh.

Penularan Hepatitis B melalui kontak cairan tubuh dapat melalui beberapa metode, diantaranya: pembawaan dari ibu ke anak, transfusi darah, penggunaan jarum yang tidak aman, dan lain sebagainya.

Gaya hidup tidak sehat serta tak bertanggung jawab pun bisa menjadi media masuknya virus pembunuh berdarah dingin tersebut. Di antaranya: melakukan hubungan seks yang tidak sehat, serta mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol.

Syahdan, satu dari 10 penduduk Indonesia menghidap penyakit Hepatitis B. Sebagian besarnya tidak menyadari sampai saatnya kemunculan berupa komplikasi atau kejadian teman duduk di sebelah saya itu.

Kenapa Indonesia sedemikian rawan? Hal itu dikarenakan Indonesia merupakan negara endemis tertinggi Hepatitis.Oleh karenanya, Indonesia menjadi pemrakarsa Resolusi WHA ke 63 pada tahun 2010.

Resolusi tersebut menghadirkan komitmen negara-negara di seluruh dunia untuk melakukan penanggulangan Hepatitis secara komprehensif melalui pencegahan dan pengobatan, serta menjadikan tanggal lahir penemu virus Hepatitis B, Baruch Samuel Bloomberg, sebagai tanggal peringatan Hari Hepatitis Dunia, yang jatuh setiap tanggal 28 Juli.

Tujuan peringatan Hari Hepatitis Sedunia adalah sebuah langkah untuk meningkatkan perhatian, kepedulian, dan pengetahuan berbagai pihak tentang besarnya masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh virus Hepatitis ini.

Virus Hepatitis ini lebih mengerikan dari HIV. Jika tidak terdeteksi, Hepatitis akan membawa penderitanya kepada kematian akibat kanker dan gagal fungsi hati.

Tema peringatan Hari Hepatitis Dunia pada tahun 2018 kali ini "Deteksi Dini Hepatitis : Selamatkan Generasi Penerus Bangsa". Pengetahuan dan kesadaran yang tinggi tentang bahaya Hepatitis dapat menyelamatkan jutaan rakyat Indonesia. Kita bisa mendukung dan mengurangi beban individu, keluarga, masyarakat, dan pemerintah akan kerugian yang kita terima akibat terpapar virus ini.

Melalui data yang dikumpulkan Kementerian Kesehatan R.I didapatkan kesimpulan bahwa penularan virus Hepatitis lebih banyak terjadi secara vertikal. Di mana 95 persennya terjadi melalui bawaan ibu pengidap virus Hepatitis B ke bayi yang dikandung atau yang dilahirkannya.

Karenanya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjadikan program Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) pada ibu hamil sebagai prioritas.

Pada tahun 2014 Indonesia telah melakukan pilot project DDHB pada ibu hamil di Provinsi DKI Jakarta. Pada tahun 2015 DDHB dilaksanakan pada beberapa provinsi pengembangan. Sedangkan di tahun 2016 DDHB sudah dilaksanakan secara nasional.

Kegiatan DDHB meliputi pemeriksaan ibu hamil untuk mengetahui status Hepatitis B. Apabila hasil pemeriksaan menyatakan terjadinya reaksi maka dilakukan pemantauan hingga bersalin.

Anak yang lahir dari ibu hamil dengan status Hepatitis B reaktif akan diberikan HB0 (dosis lahir) dan HBIG dalam waktu kurang dari 24 jam.

Strategi pencegahan infeksi vertikal Hepatitis ini juga dapat diterapkan bagi ibu hamil berstatus normal. Karena pada dasarnya, imunisasi ini bertujuan melahirkan antibodi anak-anak dari serangan virus Hepatitis B.

Saran dan petunjuk dokter sangat penting diperhatikan.

Setiap tahun diperkirakan terdapat 120ribu bayi akan menderita Hepatitis B. Sedangkan 95 persennya berpotensi mengalami Hepatitis kronis (Sirosis atau Kanker Hati).

Jika kita abai, maka kesulitannya akan kembali kepada diri kita sendiri sebagai warga negara Indonesia.

Yuk, deteksi virus Hepatitis semenjak dini. Agar kita menjadi bagian dari penyelamatan generasi bangsa di kemudian hari. 

Komentar

Alkalinda mengatakan…
Miris banget ya..tapi memang nyata virus hepatitis B sampai sekarang belum ada onat yang tepat untuk menanganinya. Semoga dengan adanya deteksi dini kasus kematian Dan penularannya bisa diminimalisir.
ikhsan keren mengatakan…
Selain deteksi dini juga harus imunisasi. Agar lahir antibodi di masa yg akan datang. Aamiien

Postingan Populer